Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher)

Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher) - Halo, kembali bersama kami SusuBubukDancow.xyz - Website Berisi Artikel Susu Terupdate, Pada kesempatan hari ini kami akan membahas seputar Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher), kami telah mempersiapkan berita ini dengan benar guna anda baca dan serap informasi didalamnya. semoga seluruh isi postingan berita Bedah Veteriner, yang kami posting ini bisa anda mengerti, selamat membaca.

Judul Berita : Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher)
good link : Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher)

Baca juga


Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher)

Trepanasio adalah suatu tindakan operasi dengan membuka suatu rongga yang berdinding keras dengan menggunakan alat trepan. salah satu contoh trepanasio adalah operasi craniotomy. 

Craniotomy adalah salah satu tindakan operasi dengan membuka tulang kepala yang bertujuan mencapai otak untuk tindakan pembedahan definitive dengan menggunakan alat trepan, misalnya pada operasi sinus di daerah kepala atau operasi pada liang atau rongga sumsum tulang. 

Tulang kepala memiliki rongga yang sempit yang hanya cukup ditempati oleh otak  dan cairan peredam otak (cairan cerebrospinal), maka dari itu bila terjadi pembengkakan akibat cedera kepala akan menyebabkan peningkatan tekanan dalam rongga kepala. 

Jika hal ini terus dibiarkan, akan menekan batang otak, sehingga fungsi - fungsi vital dalam tubuh seperti fungsi pernafasan, sirkulasi dan kesadaran akan terganggu, sehingga menyebabkan kematian.

Trepanasio sering dilakukan pada hewan besar, antara lain untuk membuka sinus maxillaris mayor, sinus maxillaris minor, sinus concho frontalis sinus frontalis, ronnga hidung dan rongga – rongga pada rahang bawah. 

Trepanasio tidak hanya membuka suatu rongga yang dibatasi oleh tulang, melainkan dapat juga untuk trepanasio jaringan lemak dibawah kulit misalnya pada kulit kelopak mata bawah dengan  tujuan operasi pengobatan entropion dan ectropion.

Definisi

Trepanasio atau yang disebut juga trepanasi dan adalah tindakan operasi dengan membuka suatu rongga yang berdinding keras dengan menggunakan alat trepan. Salah satu contoh operasi trepanasio adalah operasi craniotomy. 

Trepanasio umumnya dilakukan pada hewan besar, antara lain untuk membuka sinus maxillaris mayor, sinus maxillaris minor, sinus choncho frontalis, sinus frontalis, rongga hidung dan rongga-rongga pada rahang bawah.


Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher)
Anatomi dan letak sinus pada kuda




Trepanasio mungkin melibatkan penghapusan bagian kecil atau besar tulang dari hewan. Prosedur dari pelaksanaan operasi trepanasio dapat bervariasi dari satu pasien dengan pasien lain, tergantung pada kondisi dan kebutuhan spesifik dari pasien.

Jenis – jenis operasi trepanasio pada hewan dibedakan berdasarkan tempat atau daerah yang akan dilakukan proses pembukaan rongga tersebut. Adapun jenis – jenis operasi trepanasio, antara lain :

Trepanasi Sinus Maxillaris Minor

Trepanasi sinus maxillaris minor umumnya dilakukan dengan tujuan – tujuan tertentu. Adapun tujuan tersebut antara lain :

  1. Pengobatan emphyema, neoplasma, dan tumor pada sinus maxillaris minor
  2. Membantu dalam usaha pencabutan gigi molaris ke III dan IV pada kuda
  3. Untuk tujuan operasi diagnostik percobaan


Lokasi operasi trepanasi sinus maxillaris minor adalah pada sudut yang dibentuk oleh garis yang sejajar dengan cista fascialis dengan jarak satu lebar jari diatas crista fascialis, dengan garis yang tegak lurus dari ujung crista fascialis ke garis median kepala. 

Teknik operasi trepanasi sinus maxillaris dilakukan dengan cara :

  1. Hewan dibaringkan ke bagian yang tidak sakit. Apabila bagian hewan yang sakit dibagian sinister, maka hewan dibaringkan ke bagian dester dan begitu pula sebaliknya. 
  2. Daerah tubuh yang akan dibedah dibersihkan terlebih dahulu. Hal ini diawali dengan pencukuran bulu hewan tersebut.     
  3. Hewan didesinfeksi dan kemudian diberikan anastesi lokal. Anastesi umum dapat pula diberikan apabila dianggap perlu.
  4. Lakukan insisi pada kulit yang dibuat buat sejajar dengan arah serabut otot,  sepanjang penampung tepat kurang lebih 5 cm. Dibawah kulit terdapat fascia, periosteum dan tulang sebagai lapisan yang paling dalam. 
  5. Periosteum dipisahkan dan trapan diletakkan agak miring di atas tulang.
  6. Trepan diputar searah dengan arah jarum jam dengan tekanan tertentu agar potongan tulang tidak jatuh ke dalam rongga.
  7. Setelah lubang tulang terbentuk maka tindakan selanjutnya dilakukan sesuai dengan  Tujuan dari para trepanasi sinus maxillaris minor.


Trepanasi Sinus Maxillaris Mayor

Trepanasi sinus maxillaris mayor umumnya dilakukan dengan tujuan – tujuan tertentu. Adapun tujuan - tujuan tersebut antara lain :

  1. Pengobatan emphyema, neoplasma dan tumor pada maxillaris mayor
  2. Membantu dalam usaha pencabutan gigi molaris VI pada kuda
  3. Untuk tujuan operasi diagnostik


Lokasi operasi trepanasi sinus maxillaris mayor adalah pada sudut yang dibentuk oleh garis yang sejajar dengan crista fascialis berjarak satu lebar jari diatas crista fascialis, dengan garis yang tegak lurus crista fascialis berjarak dua lebar jari dari ujung crista fascialis.

Trepanasi Sinus Choncho Frontalis

Trepanasi sinus choncho frontalis umumnya dilakukan untuk mencapai sinus maxillaris minor dan mayor sekaligus dari satu lubang.

Trepanasi Sinus Frontalis

Trepanasi sinus frontalis umumnya dilakukan untuk indikasi sebagai berikut, antara lain:
  1. Pengobatan emphyema, neoplasma sinus frontalis
  2. Untuk tujuan operasi diagnostik percobaan
  3. Percobaan pada suatu keadaan depresi dimana terjadi infraksio os frontalis (os frontalis melekuk ke dalam).

Lokasi operasi trepanasi sinus frontalis adalah pada sudut yang dibentuk oleh suatu garis yang menghubungkan kedu foramen supra orbitale, dengan garis yang sejajar garis median kepala berjarak satu lebar jari ke atas lateral.

Trepanasi tidak hanya untuk membuka suatu rongga yang dibatasi oleh tulang, melainkan dapat pula untuk trepanasi jaringan lemak di bawah kulit. 

Salah satu contohnya adalah trepanasi pada kulit kelopak mata bawah dengan tujuan operasi pengobatan entropion dan ectropion.

Tujuan dan Kekurangan Operasi Trepanasio

Trepanasio pada tulang tengkorak (craniotomy) dapat dilakukan untuk tujuan tertentu seperti :
  1. Mendiagnosis, menghapus, atau mengobati tumor otak
  2. Memotong atau memperbaiki suatu aneurisma
  3. Menghilangkan darah atau pembekuan darah dari pembuluh darah yang bocor
  4. Menghapus arteriovenous malformation (AVM). Massa abnormal dari pembuluh darah (arteri dan vena)
  5. Pengeringan abses otak. Sebuah saku kantong nanah yang terinfeksi
  6. Perbaikan patah tulang tengkorak
  7. Perbaikan robekan pada selaput otak (dura mater)
  8. Menghilangkan tekanan dalam otak (tekanan intrakranial) dengan menghapus daerah yang rusak atau bengkak otak yang mungkin disebabkan oleh luka trauma atau stroke
  9. Mengobati epilepsi. Sebuah kondisi neurologis yang melibatkan otak yang membuat lebih rentan terhadap kejang.
  10. Menanamkan perangkat stimulator untuk mengobati gangguan gerak seperti penyakit Parkinson atau distonia (sejenis gangguan gerakan) pada manusia. 


Trepanasio pada tulang tengkorak (craniotomy) meliputi operasi epidueral hematoma (EDH) dan subdural hematoma (SDH). 

Epidural Hematoma (EDH) adalah suatu perdarahan yang terjadi di antara tulang dan lapisan duramater. Subdural hematoma (SDH)  adalah suatu perdarahan yang terdapat pada rongga diantara lapisan duramater dengan araknoidea. 

Epidueral hematoma (EDH) terletak di luar duramater tetapi di dalam rongga tengkorak dan cirinya berbentuk bikonveks atau menyerupai lensa cembung. 

Organ terletak di daerah temporal atau temporo­parietal yang disebabkan karena robeknya arteri meningea media akibat retaknya tulang tengkorak. 

Gumpalan darah yang terjadi dapat berasal dari pembuluh arteri, namun pada sepertiga kasus dapat terjadi akibat perdarahan vena. Tetapi ada kalanya epidueral hematoma (EDH) terjadi akibat robeknya sinus venosus terutama pada regio parieto – oksipital dan fora posterior. 

Walaupun secara relatif perdarahan epidural jarang terjadi, namun harus dipertimbangkan karena memerlukan tindakan diagnostik maupun operatif yang cepat. 

Perdarahan epidural bila ditolong segera pada tahap dini, prognosisnya sangat baik karena kerusakan langsung akibat penekanan pengumpalan darah pada jaringan otak tidak berlangsung lama.

Pada hewan yang mengalami kondisi tersebut akan menunjukan beberapa gejala klinis yaitu penurunan kesadaran, pupil anisokor dengan refleks cahaya menurun dan kontralateral hemiparesis merupakan tanda adanya penekanan brainstem oleh herniasi uncal dimana sebagian besar disebabkan oleh adanya massa extra aksial. Kegunaan dari operasi trepanasio ini ada dua yaitu :

a.  Ekstracranial

  1. Pengurangan fraktur yang melibatkan orbit dan mengancam mata.
  2. Penghapusan tumor atau kondisi seperti tumor yang melibatkan tengkorak atau jaringan lunak yang berdekatan.


b.  Intracranial

  1. Pengurangan fraktur depresi yang mempengaruhi langsung pada otak.
  2. Penghapusan tumor otak dan selaput otak.
  3. Penghapusan massa intrakranial lainnya.
  4. Biopsi massa intrakranial.


Adapun keuntungan atau manfaat dari dilakukannya operasi trepanasio pada tulang tengkorak (craniotomy) antara lain :

  1. Menyediakan dekompresi langsung segera otak jika tekanan intrakranial meningkat.
  2. Menyediakan akses untuk biopsi dan atau penghapusan massa intrakranial.
  3. Memungkinkan untuk pengurangan lanjutan tekanan intrakranial setelah operasi.
  4. Trepanasio memberikan perlindungan otak setelah operasi.

Adapun kekurangan dari dilakukannya operasi trepanasio pada tulang tengkorak (craniotomy) antara lain :

  1. Membutuhkan ahli bedah relatif berpengalaman untuk mencegah kerusakan lebih lanjut ke otak.
  2. Mengharuskan manajemen anestesi yang relatif dialami selama operasi.
  3. Mengharuskan manajemen relatif mengalami setelah operasi.
  4. Membutuhkan beberapa peralatan khusus.
  5. Trepanasio dapat mengekspos otak untuk risiko yang berlebihan cedera setelah operasi, terutama dengan reseksi luas dan pada anjing dengan cakupan otot sedikit atau tidak ada otak yang terkena.
  6. Trepanasio tidak memungkinkan untuk pengurangan lanjutan tekanan intrakranial setelah operasi.
  7. Kabel yang digunakan untuk mengamankan trepanasio dapat mengganggu pencitraan, pelat titanium dan sekrup atau monofilamen jahitan mungkin pilihan yang lebih baik untuk kasus – kasus di mana pencitraan selanjutnya dipertimbangkan.


Operasi trepanasio dilakukan untuk pengobatan bedah terhadap berbagai gangguan neurologis atau otak. Gangguan tersebut antara lain :
  1. Perubahan metabolik dalam sel saraf atau glial.
  2. Penurunan pasokan vaskular dengan jaringan normal (iskemia).
  3. Penurunan autoregulasi serebrovaskular.
  4. Perdarahan (intraparenchymal, intraventrikular, extradural atau subdural).
  5. Iritasi (generasi kejang).
  6. Obstruksi dari sistem ventrikel.
  7. Pembentukan edema.
  8. Produksi produk fisiologis aktif.
  9. Peningkatan tekanan intrakranial (ICP).
  10. Hematoma (bekuan darah)
  11. Aneurisma (pecahnya pembuluh darah)
  12. AVM (gangguan pembuluh darah)
  13. Patah tulang tengkorak
  14. Untuk penghapusan benda asing yang terdapat di otak


Operasi trepanasio juga dapat digunakan untuk menghilangkan tumor atau pertumbuhan lainnya dari tengkorak dan jaringan lunak yang berdekatan. 

Operasi trepanasio dapat diindikasikan untuk pendekatan luas yang meninggalkan wilayah besar otak terpapar atau pada hewan yang memiliki sedikit jaringan lunak cakupan terkena otak. 

Operasi ini umumnya dilakukan pada anjing yang keturunan biasanya mempunyai kepala yang pendek dan lebar.

Trepanasio Pada Os Skull Kelinci

  1. Pertama – tama hewan (kelinci) dibius secara intramuskular (gluteal atau otot besar) neuroleptanalgesia. Anastesi yang digunakan adalah anastesi umum dengan menggunakan fluanisone 10mg/ml dan fentanil 0,2mg/ml; 0,6ml/kg BB. Dalam operasi ini tidak menggunakan obat premedikasi. 
  2. Setelah anastesi diberikan, reaksi akan muncul setelah 10 menit. Setelah hewan berada dibawah pengaruh anastesi, kemudian rambut kepala dicukur dan diberikan larutan antiseptik (alkohol chorhexidine 5mg/ml) yang diaplikasikan atas bidang bedah. Hewan ditempatkan di atas meja operasi dan dipakaikan kain drape pada tubuh bagian caudal sampai ke ocipital, sehingga terfokus pada wilayah kraniofasial. 
  3. Pembedahan dimulai dengan mencukur rambut hewan disekitar area operasi. Kemudian dilanjutkan dengan  membuat pola sayatan sebelum membuat sayatan kulit dari hidung ke daerah parietal sampai lateralis kulit kepala dan mendasari jaringan, tulang calvarial yang akan di operasi.
  4. Penyayatan tulang pada bagian tulang calvarial dan daerah sutural dengan menggunakan mata pisau berlian yang menghasilkan 4x6 mm atau dengan pisau trepin yang menghasilkan 6mm sayatan, yang dipasang pada bor dengan kecepatan tertentu. Lesi pada kepala dapat diperluas dengan melakukan pemetongan rongeur. Proses penyayatan harus dilakukan dengan hati-hati untuk mrnghindari perforasi dura meter dan sinus sagital. Selama proses operasi pengeboran pada tulang, area pengeboran diberikan NaCl fisiologis untuk mengurangi terjadinya kerusakan pada daerah termal.  
  5. Untuk penstabilan hemostasis, tulang diberikan wax sebelum proses penutupan sayatan dilakukan penjaritan dengan menggunakan 4,0 Dexon (asam polyglycolic). Kemudian luka ditutupi dengan semprotan nobecutan. 
  6. Selama prosedur operasi berjalan, ahli bedah dan asistennya menggunakan topi steril, masker, glove dan pakaian bedah steril. Sebelum operasi dilakukan, peralatan bedah disterilkan ke dalan autoclave setiap pagi dan sore. Peralatan tersebut kemudian di rendam didalam alcohol selama 15 menit.
  7. Perawatan yang dilakukan pasca operasi yaitu untuk menanggulangi keadaan dehidrasi pada saat sebelum dan sesudah operasi, hewan disuntikan NaCl fisiologis 10ml secara subkutan dibagian punggung. Kemudian, hewan diberi injeksi streptocillin 0,1ml secara intramuscular. Bisa juga diberikan dihydrostreptomycin 0,25g/ml dan benzylpenicilline 0,2g/ml, setiap satu minggu. 


Selama proses pemulihan berlangsung, kelinci dikandangkan dengan tujuan untuk mempertahankan suhu tubuhnya agar kembali normal. 

Hewan tetap berada dibawah pengawasan selama 4 jam. Hewan tidak perlu diberikan analgesik setelah operasi.


Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher)
Tengkorak kelinci yang mengalami teknik operasi trepanasio


Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher)
Otak kucing yang mengalami teknik operasi trepanasio

Trepanasi pada Kasus Sinus Empyema (Primary Sinusitis)

Sinus empyema terjadi karena obstruksi drainase nasomaxillary dengan dihasilkannya akumulasi mukus di sinus yang kemudian menjadi infeksi. 

Beberapa kasus terjadi setelah infeksi pada saluran respirasi atas yang menyebabkan peradangan, peningkatan mukus pada sinus dan penurunan sekresi dari sinus ke rongga hidung.  

Dalam melakukan trepanasi ini kuda biasanya dianestesi umum atau berdiri biasanya menggunakan anestesi pada tabel di bawah ini.

Tabel. Sediaan kimia untuk restrain berdiri pada kuda, mule dan keledai

Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher)



Dalam melakukan treatment ini tidak selalu mengguanakan teknik trepanasi, namun juga dapat menggunkan debridement atau sinonasal fistulation untuk drainase. Namun ada saat tertentu harus menggunakan teknik trepanasi.misalnya untuk menjangkau tempat terjadinya lesi.

Teknik atau prosedur tentang trepanasi telah dijelaskan di tinjauan pustaka, berikut merupakan penggambaran teknik dari trepanasi tersebut.

  • Sebuah sayatan lengkung dibuat melalui kulit dan periosteum yang kemudian akan dilakukan trepanasi. Kuda di restrain berdiri. 
Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher)
Pembuatan sayatan pada kulit

  • Dibuat lubang trepanasi menggunakan alat trepine seluas 5 cm yang bertujuan untuk membuat flap tulang besar ke dalam sinus frontalis kiri pada kuda, memungkinkan akses bedah untuk dorsal conchal, frontal dan sinus caudal maksila. Potonga tulang dari trepanasi dibuang.
Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher)
Pembuatan lubang trepanasi


  • Setelah dibuat lubang, eksudat berlebihan yang purulen mengalir dari tulang nasofrontal pada kasus kronis sinus empiema. 
Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher)
Eksudat mengalir melalui lubang trepanasi  
  • Lipatan kulit dan periosteum digunakan untuk menutupi lubang yang ada di os frontal. Dengan menggunakan jahitan terputus (seperti ditunjukkan oleh tanda panah). Kemudian dipasang kateter Foley untuk melakukan irigasi dari eksudat yang ada di dalam.


Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher)
Penjahitan dan pemasangan kateter Foley


Trepanasi pada Kasus Kista pada Sinus 

Kista pada sinus adalah akumulasi cairan pada ruang sinus berupa lesi yang luas, dapat terjadi pada kuda tua sampai muda. Kista sinus paling sering terjadi pada sinus maksilaris tetapi mereka juga dapat terjadi pada sinus lainnya.

Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher)
Sinus Kista

Gambar di atas. menunjukkan pembengkakan besar sisi kiri daerah rahang atas pada kuda yang berumur 8 tahun (panah) adalah hasil dari remodeling tulang dalam menanggapi sebuah kista yang berkembang pada sinus maksilaris. 

Penanganan kasus diatas da[pat dilakukan dengan aspirasi atau dengan pembedahan trepanasi. 

Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher)
Hasil pembedahan kasus kista pada sinus

Gambar di atas menunjukkan pembedahan yang dilakukan pada sinus frontal dengan menghilangkan dinding kista (panah kuning), kemudian akan masih tersisa cairan berwarna seperti madu merupkan lesi khas pada kasus kista sinus (panah biru).

Komplikasi

Seperti halnya prosedur bedah, komplikasi dapat terjadi. Risiko operasi otak terikat pada lokasi tertentu di otak yang akan mempengaruhi operasi. Beberapa komplikasi yang lebih umum termasuk, namun tidak terbatas pada, sebagai berikut :
  1. Infeksi
  2. Perdarahan (hemorrhage)
  3. Trombus (pembentukan bekuan darah)
  4. Pneumonia (infeksi paru – paru)
  5. Tekanan darah tidak stabil
  6. Kejang 
  7. Kelemahan otot
  8. Pembengkakan otak
  9. Kebocoran cairan serebrospinal (cairan yang mengelilingi dan bantal otak)
  10. Kehilangan kesadaran
  11. Kesulitan mengeluarkan suara
  12. Kelumpuhan, kehilangan keseimbangan hingga koma

Referensi

Boutros, CP and Judith BK.2001. A Combined Frontal and Maxillary Sinus Approach For Repulsion of The Third Maxillary Molar in A Horse. Can Vet J Volume 42 :286 - 288

Quinn, GC, Kidd JA and Lane JG. 2005. Modified Frontonasal Sinus Flap Surgery In Standing Horses: Surgical Findings And Outcomes Of 60 Cases. Equine vet. J. Vol 37 No 2 138-142

Sudisma, IGN. 2006. Ilmu Bedah Veteriner Dan Teknik Operasi. Pelawa Sari. Denpasar.

Tate, LP  and Anthony TB. 2002. New Perspectives on Diagnosis and Treatment of Progressive Ethmoid Hematomas. Aaep Proceedings . Vol. 48’ 233-239

Tremaine, H and David EF. 2005. Disorders of the Paranasal Sinuses.

Waguespack, RW and Jennifer T. 2011. Paranasal Sinus Disease In Horses. Vetlearn.com. Auburn University.


Demikianlah Berita dari kami Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher)

Sekianlah artikel Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher) hari ini, semoga dapat memberi pengetahuan untuk anda semua. ok, sampai jumpa di artikel berikutnya. Terima Kasih

Anda saat ini sekarang membaca berita Teknik Operasi Trepanasio Pada Hewan (Bedah Kepala & Leher) dengan alamat link https://www.susububukdancow.xyz/2016/05/teknik-operasi-trepanasio-pada-hewan.html

Post a comment

0 Comments