Atropin Sulfat (Obat Hewan)

Atropin Sulfat (Obat Hewan) - Halo, kembali bersama kami SusuBubukDancow.xyz - Website Berisi Artikel Susu Terupdate, Pada kesempatan hari ini kami akan membahas seputar Atropin Sulfat (Obat Hewan), kami telah mempersiapkan berita ini dengan benar guna anda baca dan serap informasi didalamnya. semoga seluruh isi postingan berita Farmakologi & Toksikologi, yang kami posting ini bisa anda mengerti, selamat membaca.

Judul Berita : Atropin Sulfat (Obat Hewan)
good link : Atropin Sulfat (Obat Hewan)

Baca juga


Atropin Sulfat (Obat Hewan)

Sifat Kimiawi

Atropin berasal dari golongan Antikolinergik yaitu obat yang berkhasiat menekan/menghambat aktivitas kholinergik atau parasimpatis. 

Atropin merupakan protipe tersier dari agen amin muskarinik, Atropin adalah derivat dari proses alami atropin. Atropin merupakan kristal tidak bewarna dan tidak berbau, atau putih, bubuk kristalin. 

Atropin Sulfat (Obat Hewan)
 atropin sulfat


Sediaan, stabilitas, dan kompabilitas

Atropin dalam injeksi dilaporkan kompatibel (dapat icampur/dikombinasi) dengan beberapa agen berikut seperti, benzquinamide HCl, butorphanol tartat, chlorpromazine HCl, cimetidin HCl (tanpa pentobarbital), dimenhydrinat, dipenhydramin HCl, dobutamin HCl, droperidol, fentanyl sitrat, glycopyrolate, hydromorpone HCl, hydroxizine HCl, meperidine HCl, pentazocine laktat, pentobarbital sodium, perphezanine, prochlorperazine edisilat, promazine HCl, prometazine HCl, dan skopolamin HBr. 

Dan dilaporkan tidak kompatibel dengan norepinephrin bitartat, metarominol bitartat, methohexital sodium, dan sodium bikarbonat. Kompatibilitasnya bergantung pada faktor pH, konsentrasi, temperatur dan diluent yang digunakan. (Plumbs,2005).

Atropin Sulfat (Obat Hewan)
Contoh produk dan sediaan atropin sulfat

Farmakologi

Mekanisme kerja asetil kolin pada organ yang diinervasi serabut saraf otonom para simpatis atau serabut saraf yang mempunyai neurotransmitter asetil kolin. 

Obat ini menghambat muskarinik secara kompetitif yang ditimbulkan oleh asetil kolin pada sel efektor organ tertentu pada kelenjar eksokrin, otot polos, dan otot jantung, namun efek yang lebih dominan pada otot jantung, usus, dan bronkus (Mangku dan Senapathi, 2010).

Menurut Plumb (2005), atropin seperti agen muskarinik lainnya, menghambat asetilkolin atau kolinergik lain secara kompetitif pada ikatan neuroefektor parasimpatik postganglionik. Dosis tinggi dapat memblok reseptor nikotinik pada autonomik ganglia dan pada ikatan neuromukuler. 

Efek farmakologik, berelasi pada dosisnya. Pada dosis rendah mengakibatkan salivasi, sekresi brochial, dan keringat di hambat. Pada dosis moderat atropin mengakibatkan dilatasi dan menghambat akomodasi pada pupil, dan meningkatkan frekuensi jantung. 

Dosis tinggi akan menurunkan motilitas Gastrointestinal dan saluran urinari. Dan dosis yang sangat tinggi akan menghambat sekresi gastrik.

Indikasi

Atropine dalam dunia kedokteran hewan di pakai untuk :
  1. Sebagai preanestesi untuk mencegah atau mengurangi sekresi dari saluran pernapasan
  2. Terapi sinus bradikardia, blok sinoatrial, blok inkomplit nodus AV
  3. Antidote untuk overosis agen atau obat kolinergik (seperti physostigmin)
  4. Antidote untuk toksikasi atau keracunan organofosfat atau jamur muskarinik
  5. Hipersialisme
  6. Terapi terhadap penyakit yang bersifat bronkokonstriktif


Farmakokinetik

Atropine sulfat diabrsobrsi dengan baik pada pemberian secara oral, injeksi Intramuskuler (IM), inhalasi, atau pemberian endotrakeal. Setelah pemberian melalui intravena (IV), efek puncak pada jantung rata-rata terjadi dalam 3-4 menit.

Atropine didistribusikan dengan baik melalui tubuh dan masuk ke sistem saraf pusat, melewati placenta, dan didistribusikan ke susu dengan jumlah yang kecil.

Atropin dimetabolisme di hati dan dieksresikan melalui urin. Diperkirakan 30-50% dosis obat dieksresikan tanpa berubah bentuk melalui urin. Sedangkan di manusia dilaporkan kaar paruh obat dapat bertahan dalam plasma antara 2-3 jam.

Kontraindikasi

Atropin dikontraindikasikan pada hewan dengan glukoma, adhesi antara iris dan lensa, hipersensitif pada obat antikolinergik, takikardia sekunder hingga thyrotoxikosis atau insufiensi kardia, iskemi myokardia,  penyakit obstruksi gastrointestinal, paralisis ileus, kolitis ulseraif berat, obstruksi uropathy, dan myastenia gravis. 

Atropin dapat memperburuk beberapa gejala yang terlihat dengan toksisitas amitras, mengakibatkan hypertensi, dan lebih lanjut lagi mengahambat peristaltis (Plumb, 2005). 

Agen Antimuskarinik sebaiknya digunakan dengan ekstra hati-hati pada pasien yang diketahui atau dicurigai mengalami infeksi gastriointestinal. 

Atropin dan agen antimuskarinik lainya dapat menurunkan motilitas gastrointestinal, dan memperpanjang tensi dari agen kausatif atau toksin dan akibatnya memperpanjang simptomnya juga. Agen antimuskarinik juga harus digunakan dengan ekstra hati-hati pada pasien yang mengalami neuropati autonomik.

Selain hal di atas, agen antimuskarinik juga sebaiknya digunakan dengan hari-hati pada pasien yang mengalami gangguan atau penyakit hepatik, renal (ginjal), getriatrik, pedriatik, hipertiroidisme, hipertensi, gagal jantung kongestif, takiaritmia, hipertropi prostat, atau reflux esophageal. 

Pemberian sistemik atropin digunakan dengan hati-hati pada kuda karena dapat menurunkan motilitas usus halus, dan menginduksi ternjadinya kolik pada hewan yang rentan. Hal ini juga dapat mereduksi artimogenik dosis epinephrin. Penggunaan atropin pada sapi dapat mengakibatkan tonus rumen diam, dan hal ini dapat berlangsung selama beberapa hari.

Efek Samping

Efek samping dasarnya berhubungan dengan efek farmakologi obat dan umumnya juga berkorelasi dengan dosis yang dipakai. Pada dosis biasa cenderung bersifat ringan pada hewan yang sehat. 

Sedangkan efek yang tinggi parah cenderung terjadi dengan tingginya atau dosis toksik. Efek gastrointestinal meliputi mulut kering (xerostomia), disphagia, konstipasi, vomitus, dan haus. Efek pada saluran perkencingan meliputi retensi urinari atu hesistansi. 

Efek sistem saraf pusat meliputi stimulasi, mengantuk, ataksia, depresi respiratori, dan sebagainya. Efek pada mata meliputi pandangan buram, dilatasi pupil, sikloplegia, dan fotophobia. 

Efek kardiovaskuler meliputi sinus takikardia (pada dosis tinggi), bradikardia (pada awal atau dosis lebih rendah), hipertensi, hipotensi, artimia (komplek ektopik) dan kegagalan sirkulatori.

Overdosis

Untuk tanda dan gejala toksisitas atropin dapat dilihat dari efek samping di atas. Jika seandainya saat itu hewan telah menguyah makanan (oral ingesti), maka segera lakukan pengosongan isi perut dan charcoal aktif dan katartiks salin. 

Terapi gejala klinis secara suportif dan simptomatis. Jangan gunakan phenotiazin yang dapat menyebabkan efek antikolinergik. Terapi cairan dan penanganan standar untuk syok dapat dilakukan jika perlu.

Penggunaan physostigmin merupakan hal yang kontroversial, dan harus diperkirakan dampaknya untuk kasus tertentu dimana pasien akan mengalami agitasi ekstrim dan dapat menyebabkan resiko yang melukai diri dan yang lain, atau pada kasus takikardia supraventrikuler dan sinus takikardia yang lebih parah atau mengancam nyawa. 

Biasanya dosis untuk physostigmin (manusia) adalah 2 mg IV secara perlahan (untuk rata-rata orang dewasa), jika tidak ada respons, bisa diberikan ulang setiap 20 menit hingga efek toksik muskarinik, atau efek kolinergik dapat dihilangkan. 

Pada manusia yang sudah berumur tua (pedriatri) dosisnya adalah 0,02 mg/kg secara perlahan IV (berikan ulang setiap 10 menit seperti di atas) dan dapat menjadi pilihan yang dapat diterima untuk terapi awal hewan kecil. Efek samping physostigmin meliputi bronkokonstriksi, bradikardia) dapat ditangani dengan atropin secara IV dalam dosis kecil.

Interaksi obat

Beberapa obat berikut yang dapat meningkatkan aktivitas atropin dan derivatnya adalah antihistamins, procainamid, quinidin, meperidin, benzodiazepin, dan phenotiazin.

Beberapa obat yang dapat berpotensi menimbulkan efek samping atropin dan derivatnya adalah primidon, siopiramid, nitrat, penggunaan kotrikosteroid dalam jangka panjang (dapat meningkatkan tekanan intraokuler)

Atropin dan derivatnya bisa meningkatkan aksi dari obat nitrofuratoin, thiazid, diuretikum, dan simpatomimetiks

Atropin dan derivatnya bisa memiliki efek antagonis dengan metolopramid.

Dosis obat

Anjing

 Dosis yang dipakai pada anjing untuk preanestesi adalah 
  • 0,022-0,044 mg/kg IM atau SC (Muir, dalam Plumb 2005)
  • 0,074 mg/kg IV, IM, atau SC (pak injeksi atropin, S.A-Fort Dodge, dalam Plumb 2005)
  • 0,02-0,04 mg/kg SC, IM, atau IV (Morgan 1988, dalam Plumb, 2005)
untuk terapi bradikardia, atau blok inkomplit nodus AV
  • 0,02-0,04 mg/kg IV atau IM

Untuk terapi toksisitas kolinergik
  • 0,2-2,0 mg/kg ; berikan ¼ dosis IV dan sisanya SK atau IM

Untuk terapi bronkokontriksi
  • 0,02-0,04 mg/kg untuk efek durasi 1-1,5 jam


Kucing

Sebagai pranestetik
  • 0,02-0,04 mg/kg SK (subkutan), IM, atau IV

untuk terapi bradikardia
  • 0,02-0,04 mg/kg IV atau IM

Untuk terapi toksisitas kolinergik
  • 0,2-2,0 mg/kg ; berikan ¼ dosis IV dan sisanya SK atau IM


Sapi

Sebagai pranestetik
  • Karena dapat menimbulkan efek samping, maka atropin tidak boleh digunakan secara rutin sebagai agen preoperatif pada ruminansia. Jika ingin dipakai, dosis yang disarankan adalah 0,06-0,12 mg/kg IM

untuk terapi penyakit bovine hipersensitivitas
  • 1 gram satu kali sehari untuk 1 sapi kemudian diikuti dengan 0,5 gram/sapi pada 2-3 hari.

Untuk terapi toksisitas kolinergik
  • 0,5 mg/kg (dosis rata-rata)’ berikan ¼ dosis secara IV dan sisanya SK atau IM, bisa diulang 3-4 jam selama 1-2 hari.


Kuda

untuk terapi bradiaritmia yang dapat meningkat menjadi tonus parasimpatis
  • 0,02 mg/kg IV

Sebagai bronkodilatator
  • 5 mg IV untuk 400-500 kg

Untuk keracunan organofosfat
  • 1 mg/kg IV (dapat mengakibatkan midriasis dan hilangnya salivasi pada titik akhir terapi), dapat diberikan ulang setiap 1,5-2 jam secara subkutan

Babi

Untuk keracunan organofosfat (dosis yang digunakan sama pada kuda)
  • 1 mg/kg IV (dapat mengakibatkan midriasis dan hilangnya salivasi pada titik akhir terapi), dapat diberikan ulang setiap 1,5-2 jam secara subkutan

Untuk pranestesi
  • 0,04 mg/kg IM


Domba dan Kambing

Sebagai pranestetik
  • Karena dapat menimbulkan efek samping, maka atropin tidak boleh digunakan secara rutin sebagai agen preoperatif pada ruminansia. Jika ingin dipakai, dosis yang disarankan adalah 0,15-0,3 mg/kg IM

Untuk terapi toksisitas organophosfat
  • 0,5 mg/kg (dosis rata-rata)’ berikan ¼ dosis secara IV dan sisanya SK atau IM, bisa diulang 3-4 jam selama 1-2 hari.


Burung

Untuk keracunan organophosphat
  • 0,1-0,2 mg/kg IM atau SK

Sebagai preanestetik
  • 0,04-0,1 mg/kg IM atau SK


Reptil

  • Untuk toksisitas organofosfat pada kebanyakan spesies 0,1-0,2 mg/kg SK atau IM. Untuk ptyalisme pada kura-kura 0,05 mg/kg (µg/kg) SK atau IM sehari sekali


Parameter Monitoring 

Tergantung pada dosis yang digunakan
  • Irama dan frekuensi jantung
  • Rasa haus/nafsu makan, kemampuan urinasi/defekasi
  • Sekresi mulut/kekeringan pada mulut

Informasi Klien

Pemberian Atropin  secara parenteral/injeksi baik dilakukan oleh staf profesional (dokter hewan atau paramedis) dan saat denyut jantung dapat diawasi. Jika hewan menerima atropin tablet, hewan diperbolehkan meminum air jika mengalami kekeringan mulut atau haus.

Referensi :

Mangku, G  & Senapathi, TGAgung. 2010. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. PT. Macanan Jaya Cemerlang. Jakarta.

Plumb, Donald C. 2005. Plumb’s Veterinary Drug Handbook : Fifth Edition. PharmaVet.Inc Stockholm, Wisconsin. United States of America




Demikianlah Berita dari kami Atropin Sulfat (Obat Hewan)

Sekianlah artikel Atropin Sulfat (Obat Hewan) hari ini, semoga dapat memberi pengetahuan untuk anda semua. ok, sampai jumpa di artikel berikutnya. Terima Kasih

Anda saat ini sekarang membaca berita Atropin Sulfat (Obat Hewan) dengan alamat link https://www.susububukdancow.xyz/2016/05/atropin-sulfat-obat-hewan.html

Post a comment

0 Comments