Acepromazine Maleate (Obat Hewan)

Acepromazine Maleate (Obat Hewan) - Halo, kembali bersama kami SusuBubukDancow.xyz - Website Berisi Artikel Susu Terupdate, Pada kesempatan hari ini kami akan membahas seputar Acepromazine Maleate (Obat Hewan), kami telah mempersiapkan berita ini dengan benar guna anda baca dan serap informasi didalamnya. semoga seluruh isi postingan berita Farmakologi & Toksikologi, yang kami posting ini bisa anda mengerti, selamat membaca.

Judul Berita : Acepromazine Maleate (Obat Hewan)
good link : Acepromazine Maleate (Obat Hewan)

Baca juga


Acepromazine Maleate (Obat Hewan)

Sifat Kimiawi

Acepromazine maleate(dulunya acetylpromazine) merupakan derivat dari phenotiazine yang bewarna kucing, tak berbau, dan serbuknya terasa pahit. 

Satu gram Acepromazine larut dalam 27 ml air, 13 ml alkohol, dan 3 ml kloroform. Acepromazine juga dikenal dengan “ACE”. ACP, Plegicil®, Notensil®, dan Atravet®

Acepromazine Maleate (Obat Hewan)
rumus kimia acepromazin (sumber. wikipedia.org)


Sediaan/Stabilitas/Kompatibilitas 

Simpan ditempat yang terlindung dari cahaya. Sediaan tablet sebaiknya disimpan dalam kontainer serapat mungkin. Sedangkan Acepromazine injeksi sebaiknya tetap dalam keadaan beku.

Saat ini belum ada studi yang melaporkan kompatibilitas dengan beberapa kombinasi obat tertentu. Acepromazine telah dicampur dengan beberapa obat seperti atropin, buprenorphine, chloral hidrat, ketamin, meperidin, oxymorphone, dan xilazin. 

Glycopyrolat dan diazepam telah dilaporkan secara fisik tidak cocok (tidak kompatibel) dengan phenotiazine. Namun, glycopyrolat telah didemonstrasikan bahwa obat ini cocok dengan promazine HCl injeksi.

Farmakologi :

Aceprromazin adalah agen neuroleptik phenotiazin. Saat ini mekanisme aksi obat ini masih belum dipahami sepenuhnya, phenotiazin memblok post sinaptik reseptor dopamin pada sistem saraf pusat dan juga menghambat pelepasan dan peningkatan kadar dopamin. 

Obat ini diperkirakan menekan bagian sistem aktivasi retikuler yang membantu mengontrol temperatur tubuh, metabolisme basal, emesis, kesehatan vasomotor, keseimbangan hormon, dan kesadaran. Ditambah lagi, phenotiazin memiliki derjat bervariasi terhadap efek blok antikonergik, antihistamin, antispasmodik, dan alfa-adrenergik.

Efek utama yang diinginkan dalam penggunaan acepromazin pada penanganan medis veteriner adalah sebagai transquilizer. Ditambah dengan aksi farmakologis yang diberikan acepromazin yang meliputi antiemetik, antispasmodik, dan penanganan hipotermia. 

Beberapa peneliti telah melaporkan bahwa acepromazin memiliki aktivitas antikonvulsan, tetapi dalam medis veteriner umumnya phenotiazin sebaiknya jangan digunakan pada hewan yang mengalami epilepsi atau rentan mengalami kejang (seperti paca myelografi).

Acepromazin dapat menurunkan nilai respiratori, namun beberapa studi mendemonstrasikan bahwa efeknya hanya berpengaruh kecil atau tidak terjadi pada gambar gas darah, pH, atau saturasi oksihemoglobin. 

Penurunan dosis pada hematokrit terlihat pada 30 menit setelah pemberian obat pada kuda dan anjing. Pada kuda, nilai hematokrit dapat menurun hingga 50% dari dosis awal, akibat peningkatan skuestrasi splenik pada sel darah merah.

Selain dapt menurunkan tekanan darah arterial pada anjing, acepromazin menyebabkan peningkatan tekanan vena sentral, hal ini termasuk efek bradikardia dan blok sinoatrial. Bradikardia dapat ditiadakan dengan efek reflek takikardia sekunder untuk menurukan tekanan darah. 

Acepromazin juga memiliki efek antidysritmik. Acepromazin telah didemostrasikan dapat menghambat induksi aritmia melalui barbiturat aksi pendek-panjang, dan memberi perlindungan melawan fibrilasi ventrikuler dari halotan dan epineprin.

Indikasi

Acepromazin telah diterima penggunaannya pada anjing, kucing, dan kuda. Penggunaannya pada anjing dan kucing diindikasikan untuk penenang, gatal-gatal (menggaruk berlebihan) yang menyebabkan iriitasi kulit, antiemetik, dan agen pre anestetik. 

Sedangkan pada kuda mengontrol kegelisahan, digunakan bersama dengan anestesi lokal untuk berbagai prosedur dan penanganan. Obat ini umumnya juga dipakai sebagai pre anestetik pada kuda, dan dalam dosis kecil dipakai untuk mengontrol sifat hewan

Namun, acepromazin dilarang penggunaannya sebagai tranquilizer untuk babi, sapi, kelinci, domba, dan kambing. Acepromazin juga dibuktikan dapat menurunkan insiden malignan hipertermia induksi halotan pada babi-babi yang rentan.

Farmakokinetik

Farmakokinetik acepromazin telah dipelajari pada kuda. Obat didistribuskan dalam volume yang besar (6.6 L/kg) dan lebih dari 99% terikat protein. Onset aksinya lambat, membutuhkan waktu hingga 15 menit pada pemberian Intra Vena (IV), dengan kadar puncak antara 30-60 menit. Eliminasi kadar paruhnya pada kida diperkirakan sekitar 3 jam.

Acepromazin dimetabolit pada hati dengan konjugasi, dan tanpa konjugasi, dan kemudian metabolit dieliminasikan melalui urin. 

Metabolit dapat ditemukan pada urin kuda hingga 96 jam setelah pemberian obat. Sehingga obat ini tidak boleh diberikan pada hewan pacu dalam waktu 4 hari perlombaan.

Kontraindikasi

Hewan dapat diberikan acepromazin dosis rendah sebagai anestesi umum. Peringatan penggunaan dan dosis lebih kecil acepromazin sebaiknya diberikan kepada hewan yang memilki disfungsi hepatik, penyakit jantung, atau debilitasi umum. 

Karena efek hipotensinya, acepromazin dikontraindikasikan pada pasien yang mengalami hipopolemik atau syok. Phenotiazin secara relatif, dikontraindikasikan pada pasein yang mengalami tetanus atau intoksikasi strignin yang disebabkan efek sistem ekstapiramidal.

Injeksi intavena sebaiknya diberikan secara perlahan. Jangan berikan lewat intra-arterial pada kuda, karena dapat menyebabkan eksitasi atau depresi sistem saraf pusat, kejang, dan kematian. Karena efeknya terhadap sistem termoregulasi tubuh, gunakan secara hati-hati pada hewan muda atau hewan yang mengalami debilitasi.

Acepromazin tidak memiliki efek analgesik, terapi hewan dengan cara yang sesuai untuk mengontrol nyeri. Efek tranquilizer acepromazin dapat dapat dikesampingan dan hal ini tidak dapat selalu diperhitungkan penggunaanya sebagai obat restrain. Jangan berikan pada hewan pacu dalam waktu 4 hari perlombaan.

Pada anjing, efek acepromazin secara individual dapat bervariasi dan bergantung pada rasnya. Pada pasien getriatik, dosis yang sangat rendah perlu dipertimbangkan dengan efek yang panjang dari obat. Ras raksasa (giant breed) dan greyhound sangat sensitif pada obat ini, namun ras terier sebaliknya justru resisten pada efek obat ini. 

Anjing Boxer dilaporkan sangat sensitif pada efek hipotensi dan bradikardi acepromazin dan sebaiknya gunakan secara hati-hati obat acepromazin pada ras anjing ini. Atropin sering dianjurkan diberikan dengan acepromazin untuk menghilangkan atau mengurangi efek bradikardinya.

Disamping itu, berdasarkan aspek legalitas (tidak diterima penggunaannya) pemakaian acepromazin pada sapi, karena dapat menyebabkan regurgitasi isi rumen ketika induksi anestesi umum.

Efek samping

Efek acepromazin pada tekanan darah (hipotensi) dideskripsikan dengan baik dan penting untuk dipertimbangkan dalam terapi. Efek ini diperkirakan dimediasi oleh kedua mekanisme sentral dan juga diteruskan aksi alfa-adrenergik dari obat. 

Kolaps kardiovaskuler (bradikardia dan hipotensi) telah dijelaskan pada seluruh spesies utama. Anjing jauh lebih sensitif terhadap efek ini daripada hewan lain.

Acepromazine Maleate (Obat Hewan)
Pemantauan kondisi hewan

Pada hewan besar jantan, acepromazin menyebabkan penonjolan penis dan dihubungkan pada efek sedatif obat. Pada kuda efek ini dapat berakhir selama 2 jam. 

Kuda jantan sebaiknya diberikan acepromazin dengan hatiti-hati karena cedera yang ditimbulkan pada penis dapat terjadi dengan akibat pembengkakan dan paralisis permanen pada otot retraktor penis. Gejala lain yang dilaporkan pada kuda meliputi tidak dapat tidur, takipnea, trembling, takikardia, kejang (jarang terjad) dan roboh (jarang terjadi)

Walaupun acepromazin adalah tranquilizer yang baik, efeknya pada ekstensi penis kuda dan prolaps membran niktitan pada kuda dan anjing, membuat obat ini penggunaannya dibatasi untuk hewan pertunjukan. 

Disana juga ada pertimbangan etik mengenai penggunaan tranquilizer sebelum pertunjukan hewan dimulai atau hewan yang akan dijual.

Kadang-kadang hewan dapat menunukan gejala yang bertentangan pada keagresifannya dan stimulasi umu sistem saraf pusat setelah menerima acepromazin. Injeksi intramuskuler (IM) dapat menyebabkan reaksi nyeri pada daerah injeksi.

Overdosis

LD50 pada mencit adalh 61 m/kg setelah pemberian IV dan 257 mg/kg setelah pemberian oral. Anjing yang menerima 20-40 mg/kg selama 6 minggu didemonstrasikan tidak ada efek samping. Anjing yang menerima hingga 220 mg/kg secara oral menunjukan gejala edema pulmoner dan hiperemia pada organ internal, tapi tidak ada catatan kematian.

Karena jelasnya toksistas rendah acepromazin, banyak kasus overdosis dapat ditangani dengan monitoring hewan dan menangani gejalanya jika terjadi. Overdosis oral secara masif sebaiknya ditangani dengan mengosongkan usus jika memungkinkan. 

Hipotensi sebaiknya jangan ditangani dengan pemberian epineprin,  gunakan salah satu dari phenlyeprin atau norepineprin. 

Kejang dapat dikontrol dengan barbiturat atau diazepam. Doksapram telah direkomendasikan sebagai antagonis efek depresan sistem saraf pusat dari acepromazin.

Interaksi obat

Acepromazin sebainya jangan diberikan dalam satu bulan pengendalian cacing dengan agen organofosfat karena efeknya dapat menjadi potensiasi. 

Agen depresan sistem saraf pusat lain (barbiturat, narkotik, anestetik dan sebagainya) dapat memperparah depresi sistem saraf pusat jika digunakan dengan acepromazin.

Quinidin ketika diberikan dengan phenotiazin dapat memperparah depersi jantung. Obat-obat antidiare (seperti kaolin/pektin, bismuth subsalisilat) dan antasid dapat menyebakan penurunan absorbsi gastrointestinal dari phenotiazin oral. Peningkatan tekanan darah dapat terjadi jika propranolol diberikan dengan phenotiazin.

Phenotiazin memblok reseptor alfa-aderenrgik dan jika epineprin diberikan, dapat memacu aktivitas beta tak ada lawan, dan menyebabkan vasidilatasi dan meningkatkan denyut jantung. 

Metabolisme phenytoin dapat menurun jika diberikan bersamaan dengan phenotiazin. Aktivitas Procain dapat ditingkatkan dengan phenotiazin.

Dosis

Catatan-Perusahaan melampirkan dosis 0,5-22 mg/kg untuk anjing dan kucing dipertimbangkan oleh banyak dokter hewan klinik 10 kali lebih dari keperluan untuk kebanyakan indikasi. Jika obat diberika melalui IV, berikan perlahan, onset aksi akan terlihat sekurangnya 15 menit.

Anjing

  1. Pramedikasi 0,03-0,05 mg/kg IM atau 1-3 mg/kg peroral (PO) (Hall & Clarke, 1983)
  2. Restrain/sedasi 0,025-0,2 mg/kg IV ; maksimum 3 mg atau 0,1-0,25 mg/kg IM Preanestesi 0,1-0,2 mg/kg IV atau IM ; maksimum 3 mg ; 0,05-1 mg/kg IV, IM atau SK (Morgan, 1988)
  3. 0,55-2,2 mg/kg PO atau 0,055-0,11 mg/kg IV, IM, atau SK (Kirk, 1986)


Kucing

  1. Restrain/sedasi 0,05-0,1 mg/kg IV, maksimum 1 mg (Morgan, 1988)
  2. 0,1 mg/kg IM atau IV satu kali sehari (Davis, 1985)
  3. 0,055-0,11 mg/kg IM atau SK atau 1,1-2,2 mg/kg PO (Kirk, 1986)
  4. 0,11 mg/kg dengan atropin (0,045-0,067 mg/kg) 15-20 menit diikuti dengan ketamin (22 mg/kg IM) (Booth, 1988)


Kelinci

Sebagai tranquilizer 1 mg/kg IM, efek akan dimulai dalam 10 menit dan terakhir dalam 1-2 jam (Booth, 1988)

Sapi

  1. Sedasi 0,01-0,02 mg/kg IV atau 0,03-0,1 mg/kg IM
  2. 0,05-0,1 mg/kg IV, IM, atau SK (Howard, 1986)
  3. Sedatif digantikan dengan Lokal anestesi 0,1 mg/kg (Hall & Clarke, 1983)


Kuda

  1. 0,04-0,1 mg/kg IV atau IM
  2. 0,02-0,05 mg/kg IM atau IV sebagai preanestesi (Booth, 1988)
  3. Neuroleptanalgesia 0,02 mg/kg diberikan dengan buprenorpin (0,004 mg/kg IV) atau xilasin (0,6 mg/kg IV)

Babi

  1. 0,1-0,2 mg/kg IV, IM atau SK (Howard, 1986)
  2. Immobilisasi : acepromazin o,5 mg/kg IM, 30 menit kemudian diikuti dengan ketamin 15 mg/kg IM. Atropin (0,044 mg/kg IM) akan mengurangi salivasi dan sekresi bronkial. (Lumb & jones, 1984)


Kambing dan Domba

0,05-0,1 mg/kg IM


Parameter yang dipantau

  1. Denyut janntung/irama/tekanan darah
  2. Derajat tranquiliasasi
  3. Kuda jantan harus dicek terus untuk memastikan penis tertarik kembali dan tidak mengalami cidera
  4. Temperatur tubuh, khusunya jika temperatur sangat panas atau dingin.


Referensi :

Plumb, Donald C. 2005. Plumb’s Veterinary Drug Handbook : Fifth Edition.  PharmaVet.Inc Stockholm, Wisconsin. United States of America


Demikianlah Berita dari kami Acepromazine Maleate (Obat Hewan)

Sekianlah artikel Acepromazine Maleate (Obat Hewan) hari ini, semoga dapat memberi pengetahuan untuk anda semua. ok, sampai jumpa di artikel berikutnya. Terima Kasih

Anda saat ini sekarang membaca berita Acepromazine Maleate (Obat Hewan) dengan alamat link https://www.susububukdancow.xyz/2016/05/acepromazine-maleate-obat-hewan.html

Post a comment

0 Comments