Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan

Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan - Halo, kembali bersama kami SusuBubukDancow.xyz - Website Berisi Artikel Susu Terupdate, Pada kesempatan hari ini kami akan membahas seputar Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan , kami telah mempersiapkan berita ini dengan benar guna anda baca dan serap informasi didalamnya. semoga seluruh isi postingan berita Kesmavet & Zoonosis, berita Penyakit Hewan Besar, yang kami posting ini bisa anda mengerti, selamat membaca.

Judul Berita : Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan
good link : Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan

Baca juga


Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan

Pengertian

Japanese encephalitis (JE) adalah penyakit yang ditularkan oleh vector nyamuk dan disebabkan oleh virus JE. Virus tersebut masuk dalam genus Flavivirus dan family flaviviridae. Partikel virus berbentuk sferis dengan envelope yang terdiri dari banyak lipid, memiliki garis tengah 45-50 nm, dan dapat bermultiplikasi lebih baik pada suhu rendah.

Penyakit Japanese Encephalitis atau disebut juga Japanese B Encephalitis ditemukan pertama kali di Jepang pada tahun 1935 dan virus Japanese B Encephalitis ini masuk dalam group B Arbovirus (Arthropod Borne Virus).

Penyakit JE dapat menyerang berbagai jenis hewan, seperti kuda, sapi, bagal, kerbau, dan domba serta jenis unggas seperti ayam, itik, dan jenis burung. Manusia merupakan jalan akhir dari siklus penularan (dead-end reservoir).

Virus JE disebarkan oleh jenis nyamuk culex, melalui siklus zoonotik. Virus berpindah ke binatang melalui vektor C. gelidus, C. fuscocephala dan C. Vishnui. Infeksi virus JE umumnya ditemukan di daerah tropis dan subtropis di Asia, seperti India, Cina, Jepang, Korea, dan Asia Tenggara. Infeksi JE di Indonesia telah ditemukan di 7 propinsi yaitu, Sumatra Barat, Kalimantan Barat, Papua, Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur .

Infeksi virus JE pada hewan, umumnya tidak menimbulkan gejala klinis. Gejala klinis encephalitis ditemukan pada hewan seperti pada kuda, keledai, dan pada manusia. Pada ternak lainnya (itik, sapi, domba, kerbau) gejala encephalitis tidak nampak, meskipun antibodi virus JE dapat terdeteksi. Pada unggas yang terinfeksi juga terjadi perbedaan gambaran klinis, akibat dari adanya perbedaan pathogenesitas dari strain virus JE. 

Japanese B Encephalitis sebagai Penyakit Menular

Japanese encephalitis (JE) merupakan penyakit radang otak menular bersifat zoonosis, menyerang hewan dan manusia, ditandai dengan demam, gejala syaraf dan kelainan reproduksi. Hasil survey serologis yang dilakukan di Daerah Nusa Tenggara menunjukan prevalensi antibody yang tinggi. 

Hal ini menunjukkan bahwa penyakit bersifat endemic, dapat menimbulkan radang otak dan kematian pada manusia, selain itu penyakit dapat menyerang berbagai jenis hewan, seperti kuda, sapi, babi, bagal, kerbau, kambing dan domba serta jenis unggas, seperti ayam, itik dan jenis burung.

Etiologi dan Sifat JE

Pada awalnya virus JE dikelompokkan sebagai kelompok virus arbo grup B, kemudian diklasifikasikan sebagai famili togaviridae dan sekarang virus JE termasuk dalam anggota kelompok Flavivirus, famili Flaviviridae. 

Virus JE termasuk virus “Ribonucleic Acid” (RNA) yang beramplop,  Pada amplop luar dibentuk oleh amplop (E) protein dan merupakan antigen protektif. Hal ini membantu dalam masuknya virus ke dalam sel, Tetapi virus ini tidak tahan terhadap pelarut lemak seperti eter, khloroform, sodium deoksikholat dan enzim proteolitik atau enzim lipolitik. Virus ini juga sangat sensitive terhadap deterjen dan tripsin, tetapi tahan terhadap aktinomisin D atau guanidine. 

Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan
Struktur virus


Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan
Struktur protein virus
Dalam keadaan basa (PH 7-9) virus JE stabil, tetapi dengan pemanasan 56oC selama 30 menit dan penyinaran dengan sinar ultra violet, virus JE menjadi inaktif. Derajat keasaman (pH) medium yang paling baik untuk pertumbuhan virus ini adalah 8,5.

Virus ini mempunyai garis tengah antara 40-50 nm, sedangkan dengan jenis pewarnaan negatif dengan mikroskop electron, berkisar antara 20-30 nm dan mempunyai bobot molekul 60-70 x 106 Dalton. Dalam gradient sukrosa, virus JE mempunyai “Buoyant Density” 1,19 – 1,20 g/cm3 dan 1,22 – 1,24 g/cm3 dalam esium khlorida.

Virus lainnya yang diduga termasuk dalam famili Flaviviridae, genus Flavivirus antara lain virus Cacipacore virus (CPCV), Koutango virus (KOUV), Murray Valley Encephalitis virus (MVEV), St Louis ensefalitis virus (SLEV), Usutu virus (USUV), West Nile Virus (WNV), Yaounde virus (YAOV). 

Namun, dari sekian banyak virus kelompok Flavivirus, hanya beberapa virus memainkan peranan yang penting dalam menyebabkan kasus penyakit yang mempunyai dampak ekonomis, psikologis dan politis terutama bagi dunia pariwisata. 

Virus tersebut antara lain JE, Dengue, West Nille dan Murray Valley Emcephalitis. Namun, virus JE dapat dibedakan dengan serotype lainnya dan hanya memiliki satu serotype.

Epidemiologi

Penderita penyakit JE pertama ditemukan di jepang tahun 1871. Virus penyebabnya diisolasi tahun 1934 dari biopsy penderita yang meninggal. Di Korea Selatan diisolasi tahun 1946. Di Vietnam diisolasi tahun 1951. 

Sejak itu penyakit JE menyebar ke beberapa Negara di Asia, seperti RRC, Thailand, Burma, India, Malaysia, Indonesia , Hongkong, dan Guam. Sedangkan di Jepang dan Vietnam sendiri penyakit itu sudah mulai reda.

Situasi epidemiologi penyakit JE di Negara-negara Asean termasuk Indonesia.masih belum di ketahui. Keadaan yang akan terjadi di kemudian hari masih sulit diduga. 

Pengalaman di jepang menunjukan bahwa dengan kenaikan populasi nyamuk culex di bidang pertanian dan kenaikan populasi babi ternak karena kenaikan kebutuhan pangan dapat menyebabkan letusan penyakit JE di Indonesia.

Japanese ensefalitis (JE) adalah penyebab utama ensefalitis virus di  Asia dengan 30,000-50,000 kasus yang dilaporkan setiap tahunnya. Kasus fatalitas berkisar antara 0,3% sampai 60% dan tergantung pada populasi dan pada usia. 

Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan
Epidemiologi JE di Asia Tenggara

Penduduk daerah pedesaan di lokasi endemik berada pada risiko tertinggi; Japanese ensefalitis biasanya tidak terjadi di wilayah perkotaan. 

Hal ini di karenakan daerah pedesaan yang masih banyak  terdapat lahan pertanian yang merupakan sarang bagi berkembangnya nyamuk penyebar virus Japanese ensefalitis yaitu nyamuk culex. 

Biasanya nyamuk ini akan pesat berkembang pada saat musim hujan antara bulan Januari, Februari, April, Agustus Oktober, November dan Desember yang merupakann musim penghujan. Hal ini berhubungan erat dengan kegiatan bertani yang dimulai pada musim hujan, yang merupakan media yang baik bagi perkembangan nyamuk. 

Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan
Hasil sueveilans JE di Indonesia
Olson et al.(1985) juga membuktikan bahwa apabila dalam satu kali penangkapan, diperoleh 66 ekor Culex tritaeniorhynchus betina, maka hanya 1% dari nyamuk tersebut yang terinfeksi.

Populasi C. tritaeniorhynchus sebagai salah satu vetor JE diketahui meningkat pada awal kegiatan bertani, yaitu pada saat pembajakan sawah dan akan menurun pada saat setelah proses penanaman. 

Hal ini berkaitan erat dengan unsur-unsur bahan organic dan oraganisme yang muncul selama masa pembajakan yang ditandai dengan bau yang spesifik, akibat fermentasi dari batang padi, rumput-rumput dan Lumpur. Kondisi ini merupakan medium yang sangat baik bagi media perkembangbiakan Culex, terutama C. tritaeniorhynchus, C. gelidus dan C. fuscochepala. 

Setelah penanaman air disawah menjadi bersih dan fermentasi jarang terjadi akibat hujan deras dan penambahan herbisida sehingga aktifitas Culex menurun dengan drastic.

Induk Semang

Virus JE dapat menginfeksi ternak dan manusia, yang terbukti dengan adanya laporan terdeteksinya antibodi terhadap virus JE pada beberapa spesies ternak seperti kerbau, sapi, kambing, domba, sapi, itik, ayam, anjing, kelinci, kera dan burung liar.

Tidak hanya di Negara yang populasi babinya cukup banyak, kasus JE sering terjadi, namun Rusia dan India yang populasi babinya sangat kecil, sedangkan keberadaan burung liar cukup banyak, kasus JE pada manusia di Negara tersebut juga tinggi. 

Di Negara yang populasi babinya sangat kecil, tetapi populasi sapi dan kerbaunya sangat besar, virus JE dapat ditemukan pada sapi dan kerbau. Namun kasus penyakit pada manusia tidak pernah dilaporkan. Jadi tidak semua hewan merupakan reservoir yang baik bagi perkembangbiakan virus JE. 

Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan
Babi yang mati diduga karena terinfeksi virus JE

Hal ini mungkin dapat disebabkan karena titer viraemia yang terbentuk pada ternak dan ruminansia lain masih rendah dan tidak semua spesies nyamuk yang bertindak sebagai vektor yang potensial bagi virus JE, senang menghisap darah ternak tersebut untuk ditularkan pada manusia.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa babi  dan burung liar merupakan reservoir yang paling potensial untuk meningkatkan perkembangbiakan virus JE yang siap ditularkan kepada hewan atau manusia melalui nyamuk. 

Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan
Siklus hidup JE  pada hewan dan manusia, ternasuk unggas

Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan
Siklus hidup JE 

Untuk mengetahui apakah kondisi ini berlaku juga pada unggas dan hewan lainnya yang dapat bertindak sebagai reservoir, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Vektor Penyebab Penyakit

Virus JE disebarkan oleh jenis nyamuk culex, melalui siklus zoonotik. virus berpindah ke binatang melalui vektor C. gelidus, C. fuscocephala dan C. vishnui pada daerah peternakan babi dekat Bogor, Jawa Barat.

Penyebaran penyakit JE tidak dapat ditularkan langsung dari virus kepada penderita, tetapi harus melalui vector. Hingga saat ini, vektor JE yang banyak terdapat disekitar kita adalah nyamuk.hal ini dapat diketahui dari isolasi virus pada spesies nyamuk tersebut. Hingga saat ini virus JE telah berhasil diisolasi dari nyamuk Culex, Aedes dan anopheles.

Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan
nyamuk Aedes sp.

Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan
nyamuk Culex sp. 

Antigen atau virus JE dapat dideteksi dengan “Polymerase Chain Reaction” (PCR), immunofluoresensi atau secara isolasi virus. Dengan cara tadi dapat dibuktikan bahwa antigen atau virus JE telah ditemukan pada pool culex sp., Aedes sp. dan Anopheles sp.  seperti disajikan pada tabel.

Tabel.  deteksi antigen virus JE pada Culex spp., Aedes spp. dan Anopheles spp.
Culex spp.
Aedes spp.
Anopheles spp.
Tritaeniorhynchus
Vexansnipponii
Vagus
Bitaeniorhynchus
Albopictus
hycranus sinensis
Vishnui
Curtipes
peditaeniatus
Sinensis
Esoensis
Annularis
Gelidus
Togoi
Subpictus
Fuscochepala
Japonicas

Whitmorei
Bakteri

Epidesmus


Pipiens


Pseudovishnui


Sumber :  Hasegawa et al., 1975; Van Peenen et al., 1975; Olson et al., 1985; Somboon et al., 1989; Vythilingam et al., 1995.


Disamping genus Culex, Aedes dan Anopheles, virus JE juga berhasil diisolasi dari genus lain seperti Armigeres subalbatus, Mansonia annulifera, Mansonia bonnea, Lasiohelea taiwana, Haemophysalis.

Namun dari semua spesies tersebut, hanya beberapa spesies yang telah terbukti dapat memainkan peranan sebagai transmitter yang paling baik untuk menularkan JE baik dari hewan ke hewan seperti C. bitaeniorhynchus, maupun dari hewan ke manusia, seperti C. tritaeniorhynchus. 

Diyakini pula bahwa disamping kedua spesies Culex tersebut bertindak sebagai vektor yang paling potensial, spesies Culex lainnyajuga dapat bertindak sebagai vektor infeksi JE seperti C. vishnui, C. gelidus dan C. fuschocephalus.

Patogenesis JE

Infeksi virus JE pada tubuh hewan atau manusia harus melalui gigitan nyamuk yang mengandung virus JE. Pada babi, viraemia terjadi selama 2-4 hari dan diikuti dengan pembentukan antibodi dalam waktu 1 hingga 4 minggu. Virus JE dapat menembusplasenta tergantung pada umur kebuntingan dan galur virus JE. 

Kematian janin dan mumifikasi dapat terjadi apabila infeksi JE berlangsung pada umur kebuntingan 40-60 hari. Sedangkan infeksi JE sesudah umur kebuntingan 85 hari, kelainan yang ditimbulkan sangat sedikit

Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan
Stadium perkembangan virus JE


Gejala Klinis, Perubahan Patologi dan Histopatologi

JE merupakan salah satu penyakit arbovirus yang bersifat zoonosis dan dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Namun, gejala klinis yang dihasilkan Pada anak babi, kadang-kadang gejala klinis tampak, namun hal ini jarang sekali terjadi. Apabila induk babi yang sedang bunting terinfeksi virus JE, dapat mengakibatkan lahir mati, keguguran dan mumifikasi. 

Bayi babi lahir dalam keadaan lemah, terlihat adanya kelainan dan kadang-kadang disertai dengan gejala syaraf yang kemudian mati. Kelainan tersebut antara lain berupa hidrosefalus, oedema subkutan pada bayi babi dan kekerdilan pada babi yang mengalami mumifikasi.

Sementara itu, kelainan patologik pada umumnya tidak ditemukan pada babi dewasa akibat infeksi JE. Akan tetapi, kelainan patologi dapat diamati pada fetus babi dalam kandungan akibat induknya terinfeksi virus JE pada waktu bunting. 

Berat atau ringannya gejala tersebut bervariasi tergantung dari periode umur kebuntingan. akibat infeksi JE pada ternak dan manusia tidak sama. Hal ini tergantung dari spesies dan umur ternak yang terinfeksi.

Pada Manusia

Japanese ensefalitis memiliki masa inkubasi 5 sampai 15 hari dan sebagian besar infeksi tidak menunjukkan gejala: hanya 1 dari 250 infeksi berkembang menjadi ensefalitis Demam, sakit kepala dan malaise adalah gejala non-spesifik lain dari penyakit ini yang mungkin berlangsung selama periode antara 1 dan 6 hari. 

Tanda-tanda yang terjadi selama tahap ensefalitis akut meliputi kekakuan leher, cachexia , hemiparesis, kejang dan suhu tubuh mengangkat antara 38 dan 41 derajat Celcius.keterbelakangan mental dikembangkan dari penyakit ini biasanya menyebabkan koma. 

Mortalitas penyakit ini bervariasi tetapi umumnya jauh lebih tinggi pada anak-anak. Transplasental menyebar telah dicatat. lama-Life cacat saraf seperti tuli, lability emosional dan hemiparesis dapat terjadi pada mereka yang memiliki sistem saraf pusat keterlibatan. Dalam kasus yang diketahui beberapa efek juga termasuk mual, sakit kepala, demam, muntah dan kadang-kadang pembengkakan testis.

Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan
Gejala JE pada Manusia

Hasil pemeriksaan MRI pada otak manusia. terlihat lesi ekstensif pada nukleus basal dan hipocampus
Peningkatan mikroglial aktivasi setelah infeksi JEV telah ditemukan untuk mempengaruhi hasil patogenesis virus. 

Microglias adalah sel-sel kekebalan penduduk dari sistem saraf pusat (SSP) dan memiliki peran penting dalam pertahanan tuan rumah melawan mikroorganisme. sitokin aktif mengeluarkan mikroglia, seperti interleukin-1 (IL-1) dan tumor nekrosis faktor alfa (TNF-α), yang dapat menyebabkan efek toksik di otak. 

Selain itu, faktor larut lain seperti neurotoksin, neurotransmiter rangsang, prostaglandin, oksigen reaktif, dan spesies nitrogen disekresikan oleh mikroglia diaktifkan. Dalam model murine JE, ditemukan bahwa dalam hippocampus dan striatum, jumlah mikroglia aktif lebih daripada di tempat lain di otak diikuti oleh yang di thalamus. 

Pada korteks, jumlah mikroglia diaktifkan secara signifikan kurang bila dibandingkan dengan daerah lain dari otak tikus. Sebuah induksi keseluruhan ekspresi diferensial sitokin pro-inflamasi dan kemokin dari daerah otak yang berbeda selama infeksi JEV progresif juga diamati.

Meskipun efek bersih dari mediator pro-inflamasi adalah untuk membunuh organisme infeksi dan sel yang terinfeksi serta merangsang produksi molekul yang memperkuat respon mounting untuk merusak, juga terbukti bahwa dalam nonregenerating organ seperti otak, kekebalan bawaan dysregulated respon akan merugikan. 

Dalam JE peraturan ketat aktivasi mikroglial tampaknya terganggu, mengakibatkan loop autotoxic aktivasi mikroglial yang mungkin menyebabkan kerusakan saraf penonton. 

Pada Hewan

Infeksi virus JE pada hewan, umumnya tidak menimbulkan gejala klinis. Gejala klinis encephalitis pada hewan dapat terlihat pada kuda dan keledai, seperti yang terjadi pada manusia. 

Pada ternak lainnya (itik, sapi, domba, kerbau) gejala encephalitis tidak nampak, meskipun antibodi Virus JE dapat terdeteksi. Pada Unggas yang terinfeksi juga terjadi perbedaan gambaran klinis, akibat dari adanya perbedaan pathogenesitas dari strain virus JE.

Diagnosa

Cara diagnosa penyakit JE ini akan sulit jika hanya berdasarkan gejala klinis saja. Yang paling tepat adalah isolasi, akan tetapi cara ini pada umumnya tidak dilakukan dan tidak praktis, oleh karena itu diagnosa dapat dilakuakan dengan melihat epidemiologi penyakit serta  pemeriksaan laboratorium yang mencakup uji serologis. 

Meliputi deteksi antibodi spesifik dan uji virologis yang meliputi isolasi virus penyebab, deteksi antigen virus dari sampel yang dicurigai

ELISA Tak Langsung (indirect Elisa)

Enzim linked immunosorbent assay-enzim (ELISA), juga dikenal sebagai enzim immunoassay (EIA), adalah teknik biokima yang digunakan terutama dalam imunologi untuk mendeteksi keberadaan suatu antibodi atau antigen dalam sampel. 

Prinsip dasar dari indirect ELISA adalah mereaksikan serum antibody dengan antigen yang terikat pada fase padat. Selanjutnya ditambahkan antibody yang belabel enzim dan kemudian ditambahkan substrat. Aktivitas dari enzim yang terikat berbanding lurus dengan  kadar antibody yang terdapat dalam bahan pemriksaan.

Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan
Proses ELISA tidak langsung.

Tahapan Pelapisan (Coating)

Untuk tahap pelapisan (coating) dalam uji ELISA diawali dengan mencairkan antigen ke konsentrasi akhir 20 mg / ml dalam PBS atau buffer karbonat lainnya. Lambang sumur dari pelat mikro PVC dengan antigen oleh pipeting 50 ßl dari dilusi antigen dalam sumur atas piring. 

Mengencerkan menuruni pelat sesuai kebutuhan, kemudian tutup piring dengan plastik perekat dan menetaskan selama 2 jam pada suhu kamar, atau 4° C semalam. Waktu inkubasi pelapisan mungkin memerlukan beberapa optimasi, lalu dilanjutkan dengan melepaskan substrat  coating dan mencuci piring tiga kali dengan mengisi sumur dengan 200 ßl PBS. 

Tahapan Blokade (blocking)

Tahapan blocking pada uji ELISA diawali dengan memblok  situs pengikatan protein yang tersisa di sumur dilapisi dengan menambahkan 200 buffer memblokir ßl, 5% susu skim tanpa lemak  atau serum 5% di dalam PBS, per sumur. Reagen alternatif memblokir termasuk block ACE atau BSA. 

Kemudian, tutup micro plate dengan plastik perekat dan menetaskan selama paling sedikit 2 jam pada suhu kamar atau, jika lebih nyaman, semalam pada 4 ° C. Selanjutnya cuci micro plate sebanyak dua kali dengan PBS.

Penambahan Antibodi Pertama (serum uji)

Kadar antibodi yang terlalu tinggi dapat menimbulkan hasil yang positif semu melalui reaksi silang dan ikatan non-spesifik. 

Pengenceran yang dianjurkan adalah 1:100 sampai 1:5000 untuk antisera, 1:2 sampai 1:100 untuk cairan supernatan dan 1:200 sampai 1:10.000 untuk cairan asites (Garfin, 1992). Inkubasi antibodi dalam spesimen dilakukan pada suhu ruangan selama 1-2 jam.

Penambahan Antibodi kedua (konjugat berlabel enzim) atau detector

Penambahan antibodi kedua, yang merupakan antibodi konjugat yang berlabel enzim terhadap antibodi pertama, diinkubasikan selama 1-2 jam pada suhu ruangan. 

Detektor merupakan molekul yang spesifik untuk sampel dan dipakai untuk melacaknya. Detektor dapat dilabel dengan enzim secara langsung (pada antibodi) atau secara tak langsung (pada anti-imunoglobuolin). 

Berbagai macam detektor berlabel yang dipakai dalam ELISA diantaranya adalah antibodi yang dilabel secara langsung dengan enzim, antigen yang berlabel enzim dan protein A yang berlabel. 

Pencucian dilakukan dengan cara yang sama seperti tahap penambahan antibodi primer. Daya lacak (sensitivitas laboratories) dari tes sangat tergantung pada enzim dan substrat yang dipakai dalam tes tersebut.

Enzim yang sering dipakai dalam uji ELISA diantaranya seperti Horse-Radish Peroxidase (HRP), Phosphatase Alkali (AP), glukooksidase, glukoamilase. HRP dan AP dapat dideteksi secara fotometris atau mata telanjang. 

Menurut Hasil pertemuan Enzyme Linked Immuno Spesific Assay for Infectious Agent disimpulkan bahwa HRP dan AP hampir sama dalam penampilannya. Tetapi HRP lebih disukai sebab lebih mudah didapat dan memberi perubahan warna yang amat cerah.

Penambahan Substrat Berkromogen

ELISA Tradisional biasanya melibatkan substrat yang berkromogen yang menghasilkan beberapa jenis perubahan warna diamati untuk menunjukkan adanya antigen atau analit. ELISA-seperti teknik yang lebih baru menggunakan fluorogenic, electrochemiluminescent, dan real-time PCR  untuk membuat sinyal terukur. 

Substrat ini memiliki berbagai keuntungan termasuk tinggi sensitivitas dan bersifat multiplexing. Namun, mengingat bahwa prinsip-prinsip umum dalam tes ini sebagian besar sama, mereka sering dikelompokkan dalam kategori yang sama dengan ELISA.

Diagnosa Banding

Diagnosa banding penyakit JE diantaranya adalah penyakit Rabies, west nile, murray valley encephalitis, Nipah, equine morbili virus, avian enchepalomielitis karena sama-sama memiliki gejala encephalitis.

Pengendalian dan Pencegahan Penyakit

Untuk mengurangi penyebaran penyakit Japanese Encephalitis pada hewan, maka pemutusan rantai penularan (virus, vektor nyamuk dan induk semang) perlu dilakukan. Babi merupakan sumber penularan virus Japanese B Encephalitis yang paling baik dibandingkan dengan hewan lain. 

Saat ini di Indonesia belum ada kebijakan pemerintah dalam vaksinasi JE namun di Negara lain  Pengendalian dan pencegahan penyakit Japanese Encephalitis pada hewan dapat dilakukan dengan tiga pendekatan :

1. Dengan melakukan vaksinasi virus Japanese B Encephalitis pada hewan.

Hingga saat ini, telah beredar 3 jenis vaksin JE, yaitu:
  1. Vaksin Mati atau vaksin inaktif, seperti vaksin “formalized chick embryo”, “formalized purified mouse brain” (strain Jepang dan Cina) dan “formalized hamster kidney cell”.
  2. Vaksin hidup yang telah dilemahkan, seperti strain OCT 541, m-PK-L, SA 14-2-8, SA 14-5-3, dan SA 14-14-2 (Thongcharoen, 1989).
  3. Vaksin hasil teknologi genetik rekombinan.
Jadwal pemberian vaksin bergantung pada jenis vaksin yang digunakan. Pemberian vaksin pada babi dara sebelum dikawinkan, sangat dianjurkan untuk mencegah adanya keguguran. 

Bahkan akhir-akhir ini telah dikembangkan vaksin teknologi genetik rekombinan yang aman dan efektif sehingga dapat memberikan proteksi imunitas tanpa menimbulkan efek samping pasca vaksinasi

2. Dengan menghambat populasi vektor.

Cara ini tidak mudah dilakukan, karena memerlukan kerja lintas sektoral. Mengingat tempat perkembangbiakan vektor tersebut adalah di daerah persawahan yang banyak terdapat di Indonesia dan nyamuk banyak ditemukan di daerah persawahan. Populasi vektor dapat dihambat dengan pemberian insektisida, larvasida dan predator.

Insektisida dan larvasida dapat digunakan disekitar pemukiman, kandang ternak dan sawah yang merupakan tempat perkembangbiakan nyamuk yang baik. Namun cara ini dinilai tidak efektif, karena biaya yang dikeluarkan tinggi, disamping akan menimbulkan resistensi insektisida atau larvasida.

Beberapa insektisida atau larvasida yang sering digunakan antara lain karbonat (“carbaryl”) “pyrethroid” dan preparat organofosfor seperti malathion, fenthrotion, diazinon dan fenthion. Bahan kimia lain yang digunakan seperti Temephos, methoprene, Difluben Zuron, Triflumuron dan Vetrazin. 

Terjadinya resistensi insektisida tersebut dapat disebabkan penggunaan secara besar-besaran dalam waktu yang lama. Disamping menimbulkan resistensi, residu yang ditimbulkan oleh penggunaan insektisida tersebut dapat membahayakan kesehatan manusia. 

Namun, penggunaan larvasida nyamuk secara massal di daerah endemik yang banyak terdapat kasus, sangat diperlukan. 

Pemberian abate pada air yang menggenang, seperti bak air, penyemprotan insektisida ataupun “fogging” untuk membunuh larva dan nyamuk dewasa secara berkala, perlu dilakukan di rumah ataupun disekitar kandang ternak.

3. Dengan menggunakan kelambu dan memindahkan lokasi peternakan babi jauh dari lokasi persawahan.

Karena salah satu vektor JE yang paling banyak ditemui di daerah tropis terutama didaerah persawahan adalah C. tritaeniorhynchus dan C. gelidus. Culex tritaeniorhynchus telah diketahui senang menggigit manusia dan ternak lain. Sedangkan C. gelidus tidak banyak menggigit manusia namun senang menggigit ternak.

4. Mengurangi populasi C. tritaeniorhynchus dengan memodifikasi penanaman padi.

Diantaranya, seperti penggunaan air irigasi yang intermiten, penggunaan air yang sedikit, diharapkan dapat mengurangi populasi nyamuk C. tritaeniorhynchus di daerah persawahan.


Demikianlah Berita dari kami Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan

Sekianlah artikel Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan hari ini, semoga dapat memberi pengetahuan untuk anda semua. ok, sampai jumpa di artikel berikutnya. Terima Kasih

Anda saat ini sekarang membaca berita Japanese Enchephalitis (JE) pada Hewan dengan alamat link https://www.susububukdancow.xyz/2016/04/japanese-enchephalitis-je-pada-hewan.html

Post a comment

0 Comments