Pemeriksaan Darah Automated Blood Counter (case report)

Pemeriksaan Darah Automated Blood Counter (case report) - Halo, kembali bersama kami SusuBubukDancow.xyz - Website Berisi Artikel Susu Terupdate, Pada kesempatan hari ini kami akan membahas seputar Pemeriksaan Darah Automated Blood Counter (case report), kami telah mempersiapkan berita ini dengan benar guna anda baca dan serap informasi didalamnya. semoga seluruh isi postingan berita Diagnostik & Laboratorium, yang kami posting ini bisa anda mengerti, selamat membaca.

Judul Berita : Pemeriksaan Darah Automated Blood Counter (case report)
good link : Pemeriksaan Darah Automated Blood Counter (case report)

Baca juga


Pemeriksaan Darah Automated Blood Counter (case report)

Pemeriksaan hematologi bertujuan untuk mengetahui keadaan-keadaan tertentu yang berkaitan dengan sistem hematopoetik. Sistem hemapoetik terdiri dari berbagai macam sel yang meliputi sel - sel yang beredar dalam peredaran darah, cikal bakal (precursor) pada sumsum tulang serta sel – sel turunannya pada jaringan. 

Status sistem hematopoetik secara klinik dapat diketahui melalui pemeriksaan sumsum tulang serta pemeriksaan darah tepi yang meliputi pemeriksaan eritrosit, leukosit, dan trombosit baik secara kuantitatif ataupun kualitatif.

Darah dapat dibagi menjadi 2 yaitu : jaringan cair yang terdiri atas plasma darah (sebanyak  55%) dan di dalamnya terdapat sel-sel darah/ butiran-butiran darah (unsur padat, sebanyak 45%).

Volume darah secara keseluruhan kira-kira merupakan 1/12 berat badan. Dalam keadaan sehat/ normal volume darah tetap dan sampai batas tertentu diatur oleh tekanan osmotik dalam pembuluh darah dan jaringan.

Bagian – bagian dari darah dapat dijabarkan sebagai berikut :

1.  Plasma Darah

Di dalam plasma darah terdapat “Plasma” dan “Serum”, Plasma sendiri didapatkan dari cairan yang tidak membeku ini terjadi karena kandungan proteinnya lebih banyak.

Plasma ini diperoleh dari bagian cair darah dengan mendiamkan darah yang ditambah dengan “Antikoagulan” (warna kecoklatan).

Sedangkan Serum memiliki protein yang lebih sedikit karena terkurangi oleh darah yang membeku. Serum ini diperoleh dari bagian cair darah yang diperoleh dengan mendiamkan darah yang tidak ditambah  dengan “Antikoagulan” (jernih).

2.  Sel -  Sel Darah

A. Eritrosit

Sel darah merah atau eritrosit merupakan komponen yang paling banyak di antara unsur-unsur pembentuk darah. Eritrosit berfungsi untuk mengangkut oksigen ke sel-sel seluruh tubuh dan membawa karbon dioksida ke paru-paru.

Eritrosit dalam pembetukannya dilakukan diberbagai tempat yaitu :
  • Bayi                             : saccus Yolk (kantong kuning).          
  • Muda (Reticulo­cyte)   : sumsum tulang merah (femur, vertebrae), hati, limpa.
  • Tua                   : sumsum tulang = rusuk, sternum, vertebrae, clavicula, scapula,                                              tengkorak, pelvis, hati, limpa dll.

Di dalam setiap eritrosit terdapat suatu zat kimia penting dalam sel yang disebut hemoglobin.

Hemoglobin adalah suatu senyawa yang dibentuk dari unsur besi berisikan zat pewarna yang disebut Heme dan protein yang disebut Globulin.

Hemoglobin memiliki suatu afinitas (daya ikat) terhadap oksigen sehingga membentuk oksi-hemoglobin.

Adapun ciri-ciri dari sel darah merah itu sendiri yaitu:
  1. Berbentuk bulat (jika dilihat dari atas), berbentuk bikonkaf (dari samping), tidak memiliki inti (mamalia), berinti (unggas).
  2. Ukuran bervariasi, tergantung spesies hewan 4-13 μ
  3. Jumlah sel darah merah bervariasi, tergantung spesies hewan 2-14 juta.
  4. Tempat Formasi (pembentukan) sel darah terjadi di Sumsum tulang

Tempat Degradasi (penghancuran) sel darah merah terjadi di dalam limpa dan hati. Di hati hemoglobin diubah menjadi zat warna empedu atau Bilirubin, sedangkan zat besi masuk kedalam sumsum tulang sebagai bahan pembentuk tulang yang baru.

Sel darah merah (Erythrocyte) memiliki beberapa bagian-bagian yang akan dijelaskan dalam skema berikut yaitu :

Pemeriksaan Darah Automated Blood Counter (case report)
gambaran mikroskopis sel darah

B.  Leukosit

Sel darah putih dibentuk di ossa plana/ tu;ang pipih. Umur leukosit hanya bertahan  dalam hitungan mingguan. Bentuk leukosit bermacam-macam tidak tetap seperti amoeba. Diameter dari sel darah putih adalah 9-15 µm. sel darah putih tidak berwarna, bersifat bening.

Dalam setiap mm3 terdapat 8000 sel darah putih.  Darah putih yang rusak akan dikeluarkan bersama-sama kuman yang mati dan dikeluarkan melalui abses (nanah).

Sel darah putih / leukosit dibagi menjadi 2 bagian yaitu granulosit dan agranulosit. Agrunolosoit terdiri atas limfosit dan monosit. Sedangkan yang termasuk granulosit ialah neuthrophile, eosinophile dan basophile.

1.  Agrunolosoit

Limfosit 

memiliki ciri khusus yaitu membran plasma nyaris tidak ada. Pada vertebrata ada 2 sel limfosit yaitu limfosit B dan limfosit T. Limfosit dibuat di susmsum tulang dan hati (pada fetus). Mula-mula semua limfosit sama, tetapi kemudian berdiferensiasi menjadi sel B atau sel T. Terbentuknya 2 sel ini tergantung dari tempat pematangannya.

Limfosit yang berpindah dari sumsum tulang berkembang menjadi sel T. Sedangakan limfosit yang tetap berada di sumsum tulang berkembang menjadi sel B. limfosit berfungsi mengahsilkan anti bodi untuk melawan zat asing yang masuk.

Di agrunolosit terdapat relatif dalam jumlah cukup banyak dalam darah kebanyakan species hewan piara dan ternak. Dibentuk dalam jaringan lymphoid (nodus lymphaticus, limpa, dll). Lymphocyte menghasilkan antikorpora dan mengikat toxin, mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mengadakan phagocyto­sis. Mereka mempunyai gerakan amoeboid.

Monosit 

memiliki ciri khusus yaitu bentuk inti seperti kacang dan letak inti agak menepi. Monosit merupakan fagosit yang efektif. Monosit beredar di dalam darah selama beberapa jam, kemudian berpindah ke jaringan.

Di dalam jaringan monosit berkembang menjadi makrofag. Makrofag  bersifat ameboid dan dapat merentangkan pseudopodia untuk menarik mikroba.

Mikroba yang terperangkap kemudian dihancurkan dengan enzim pencernaan. disebut sebagai sel transisional dan merupakan leucocyte mononuclear yang besar. Terdapat dalam darah dalam jumlah yang terbatas.

Sel ini besar dan mempunyai nucleus tunggal. Mempunyai pergerakan yang baik, dan aktif mengada­kan phagocytosis. Asalnya dari sel-sel SRE (Sistem Reticulo Endothelial).

2.  Granulosoit

Neuthrophile 

memiliki ciri khusus yaitu warna plasma tidak menyerap warna dan inti yang segmented.

Neuthropihile dapat bergerak secara ameboid dari darah dan masuk ke jaringan yang terinfeksii dan menghancurkan mikroba yang ada. Gerak neuthrophile terjadi karena adanya sinyal kimia dari daerah yang terinspeksi.

Eosinophile 

memiliki ciri khusus yaitu plasmanya berwarna merah. merupakan sel yang besar dan mengandung granula (merah pada cat Giemsa) dalam cytoplasmanya; yang bisa dicat dengan pewarnaan yang bersifat asam dan intinya bergelambir dua polymorph.

Jumlahnya dalam darah normal kebanyakan hewan sedikit dan meningkat pada kasus alergi akut, infeksi parasit, bakteri, ragi, dan Ag-Ab.

Sel ini mengandung histaminase dan dapat melepaskan serotonin,serta mempunyai sifat non-phagocytosis. Dibuat dalam sumsum tulang.

Basophile 

memiliki ciri khusus yaitu plasmanya berwarna biru. Granula basophile mengandung histamine.

Histamine adalah salah satu sinyal kimia yang akan dikirimkan bila terjadi luka dan peradangan. Basofil diduga terlibat dalam reaksi alergi atau melawan protein asing yang masuk.

C.  Trombosit

Bentuk trombosit lonjong gepeng,tidak teratur, tidak berwarna, tidak berinti dan berukuran kecil. Diameter ±2-4 µm. Dalam setiap mm3 terdapat 25.000 -45.000 keping darah pada sapi. Trombosit dibuat hati limpa dan sumsum tulang. Umur dari keping darah adalah 8-11 hari.

Thrombocyte mempun­yai beberapa fungsi dalam tubuh hewan. Fungsi utamanya adalah mencegah terjadinya haemorrhagia bila terjadi perlu­kaan. 

Selama proses koagulasi darah thrombocyte menjadi sangat aktif dan dapat menghasilkan enzyme thrombokinase (thromboplastin) yang sangat berguna dalam proses koagulasi darah tersebut. Pada keadaan thrombocytopenia jumlah throm­bocyte akan menurun, terjadi gangguan koagulasi darah, sehingga perdarahan akan berlangsung sangat lama. 

Jadi thrombocyte penting dalam haemostasis dan thrombosis (peng­gumpalan darah dalam pembuluh darah).

Dalam pemriksaan Hematologi, diperhatikan beberapa kelianan/abnormalitas yang terjadi pada eritosit, abnormalitas tersebut antara lain :

1.  Abnormalitas ukuran

  • Macrocytosis : peningkatan populasi eritrosit dengan ukuran lebih besar dari ukuran eritrosit normal. Eritrosit pada agangguan ini akan bersifat hipokromik. Macrocytosisdapat terjadi karena defisiensi Fe dan kerusakan hati pada anjing.
  • Microcytosis: peningkatan populasi eritrosit pada darah tepi dengan ukuran lebih kecil dari ukuran eritrosit normal. Sering dijumpai pada terjadi peningkatan eritropoesis akibat meningkatnya sel-sel eritrosit yang muda.

2.  Abnormalitas warna   

  • Polychromia : terjadi akibat peningkatan eritropoesis.
  • Hypochromia: eritrosit mengalami kepucatan pada bagian tengah, melebihi sepertiga diameternya.  Ini terjadi akibat dari kandungan Hb rendah, defisiensi Fe dan gangguan sintesis haemoglobin. Pemeriksaan darah menunjukkan penurunan MCHC.

3.  Abnormalitas bentuk

  • Eliptosit atau Ovalosit :  dijumpai pada anjing penderita myelofibrosis dan juga yang memiliki kelainan struktur protein pada membran eritrosit.
  • Sel sasaran (Sel target) : sering terjadi pada anemia anemia regeneratif, atau pada keadaan defisiensi Fe.
  • Akantosit : sering dijumpai pada anjing penderita kelainan limfa atau hati.
  • Skistosit (RBC fragment) : bentuk eritrosis tidak teratur.
  • Sel darah merah mengerut (crenated) : eritrosit dengan sitoplasma mengerut dan bisanya terjadi pada saat menggunakan anti koagulan EDTA.
  • Stomatosit: terjadi karena kelainan bawaan dari membran eritrosit.
  • Sferosit: eritrosit memiliki diameter lebih kecil dari pada normal, tanpa halo di tengah dan berwarna lebih gelap. Sferosit biasanya dijumpai pada immune haemolytic animeas.
  • Poikilositosis: dalam satu lapang pandang ditemukan berbagai bentuk eritrosit dalam peredaran darah tepi. Biasanya terjadi pada pedet baru lahir atau pada kasus anemia yang mengalami defisiensi Fe.
Pada kasus hematologi sering didengar kata “ANEMIA”. Anemia bukanlah suatu penyakit, tetapi keadaan keadaan patologis atau masalah diagnostic. 

Tanda klinis dari anemia adalah akibat penurunan suplay oksigen (depresi, kelemahan, tachypenia dll). Pada keadaan hewan yang mengalami anemia, bila dilakukan pemeriksaan hematologi akan ditemukan :
  • Penurunan sel darah merah (RBC, Hb atau PCV) pada peredaran darah tepi.
  • Perubahan RBC, Hb dan PCV yang biasanya terjadi secara proposional.
Klasifikasi anemia berdasarkan morfologi:
Klasifikasi
MCV
MCHC
Normotik normokromik
Normal
Normal
Makrositik hipokromik
Tinggi
Rendah
Makrositik normokromik
Tinggi
Normal
Mikrositik hipokromik
Rendah
Rendah
Mikrositik normokromik
Rendah
Normal
Normositik hipokromik
Normal
Rendah

Pada interpretasi hasil penentuan jumlah eritrosit/ nilai PCV/Hematokrit serta penentuan kadar Hb akan mengarah pada perhitungan MCV,MCH dan MCHC. Pemeriksaan PVC dipakai untuk mendeteksi polycythaemia (pada peningkatan PVC) dan anaemia (pada penurunan PVC). 

Pemeriksaan MCV dapat digunakan sebagai indikator  ukuran eritrosit besar (makrositik) atau ukuran eritrosit mengecil (mikrositik). MCH dan MCHC digunakan sebagai indikasi klinis terhadap rataan kadar Hb dalam eritrosit menurun (hipokromasia) atau normal (normokromasia).

Pada interpretasi hasil penentuan jumlah leukosit akan mengarah pada perhitungan WBC dan pelaporan differensial leukosit. WBC merupakan jumlah leukosit total pada tubuh hewan. Pelaporan differensial leukosit ada 2 yaitu :
  1. Nilai relatif  dalam persen(%) terhadap setiap type Leukosit.
  2. Nilai absolut dari jumlah masing-masing type Leukosit.
Pada interpretasi hasil penentuan jumlah trombosit akan mengarah pada perhitungan MPV. MPV dapat digunakan sebgai indikator ukuran trombosit besar yang mengakibatkan nilai MVP akan tinggi atau ukuran trombosit kecil yang mengakibatkan nilai MVP akan turun.

D.  Materi dan Langkah Kerja

Materi

Darah anjing betina berumur tiga tahun yang secara pemeriksaan klinik nampak sakit.
Tabung darah yang mengandung EDTA.

Pemeriksaan Darah Automated Blood Counter (case report)
Automatic Blood Counter.

Langkah Kerja

  1. Ditekan on/off yang terletak di belakang mesin sampai lampu panel depan menyala dari merah menjadi hijau. Mesin akan melakukan start up secara otomatis. Selesai strart up akan ditampilkan hasil check up mesin pada layar display. Nilai tidak melebihi WBC: 0,2; RBC:0,01 dan PLT:5
  2. Dimasukkan Veterinary Smart Card yang berlabel gambar anjing, kemudian ditekan tombol start.
  3. Ditekan tombol ID. Diisi ID dengan huruf atau angka maksimal 13 karakter.
  4. Setelah ID diisi, ditekan tombol enter untuk menyimpan identitas yang telah dibuat dan pada layar display akan muncul tulisan “Press The Sampling Bar”. Jarum sampling akan menonjol keluar.
  5. Ditempatkan tabung yang telah berisi darah sehingga ujung jarum sampling mesin terendam darah.
  6. Ditekan sampling bar atau tombol start dan mesin akan menganalisa darah secra otomatis.
  7. Saat lampu indicator berhenti menyala dan lampu panel merah menyala, tabung darah dipindahkan.
  8. Setelah hasil pemeriksaan di print oleh mesin, lampu panel akan menyala hijau dan mesin siap digunakan kembali.

Hasil Pemeriksaan

Pemeriksaan Darah Automated Blood Counter (case report)
Hasil pemeriksaan

Differensial leukosit
Relatif

   Limfosit     :  24,28         12,0-30,0
-          Monosit      : 4,1%           3,0-10
-          Granulosit   : 71,1 H %    60,0-70
Absolut

Limfosit    : 1,9 L 103/mm3        12,0-3,6
-       Monosit     : 0,34 L 103/mm3      3,0-0,5
-       Granulosit  : 5,7 103/mm3           3,0-10,0

Pada hasil pemeriksaan Hematologi  dapat diterjemahkan hasil yaitu  :
  • WBC (White Blood Cell/ sel darah putih). Hasil : Normal
  • RBC (Red Blood Cell). Hasil : Normal
  • HGB (Haenoglobin). Hasil : Normal
  • HCT (Hematocrit) Hasil : Dibawah Normal, perbandingan jumlah volume eritrosit dan total protein lebih rendah dari volume darah total
  • PLT (platelet/trombosit). Hasil : Dibawah Normal, indikasi adanya pendarahan
  • MCV. Hasil : Dibawah Normal, Eritrosit yang mempunyai volume yang rendah, bentuknya akan kecil. Keadaan ini sering disebut dengan “mikrositik”.
  • MCH. Hasil : Dibawah Normal, jumlah kadar Hb dalam sel darah menunjukkan hasil yang rendah. Eritrosit yang mempunyai kadar Hb rendah akan mempengaruhi warna dari eritrosit. Ini disebabkan karena Hb akan memberi warna pada RBC. RBC warnanya akan pucat. RBC yang jumlah Hb nya rendah menyebabkan warna darah yang kurang merah dan sering disebut dengan “hipokromik”.
  • MCHC. Hasil : Dibawah Normal, jumlah kadar Hb pada setiap sel darah menunjukkan hasil yang rendah.
  • RDW. Hasil : Normal
  • MPV. Hasil : Diatas Normal, yang berarti volume rata-rata trombosit tinggi. Trombosit yang mempunyai MVP tinggi, menunjukkan trombosit dengan ukuran yang besar .
  • Limfosit. Hasil : Dibawah Normal, jumlah limfosit pada darah rendah. Jumlah yang rendah menunjukkan adanya mekanisme pertahanan dari tubuh hewan untuk membunuh agen infeksi sehingga jumlahnya sedikit. Jumlah limfosit yang rendah sering disebut dengan “limfositopenia”
  • Monosit. Hasil : Dibawah Normal, jumlah monosit pada darah rendah. Monosit merupakan fagositosis yang sangat handal. Jumlah yang rendah menunjukkan adanya mekanisme pertahanan dari tubuh hewan untuk membunuh agen infeksi sehingga jumlahnya sedikit. Jumlah monosit yang rendah sering disebut dengan “monositopenia”.
  • Granulosit Hasil : Normal,
# keterangan : dalam pemeriksaan differensial leukosit menggunakan ukuran absolute


Dari pengamatan dan pembacaan, dapat disimpulkan hasil pemeriksaan hematologi pada anjing tersebut dengan ABC adalah :
  1. Penurunan jumlah Hemoglobin, tubuh kehilangan banyak zat besi (Fe)
  2. Kerusakan pada sel darah merah, kemungkinan akibat penyakit infeksius, malnutrisi, keracunan, atau carcinoma pada hati
  3. Mengalami kebocoran pembuluh darah, terlihat dari penurunan jumlah platelet
  4. Anjing mengalami “Anemia Mikrositik Hipokromik”, terlihat dari HCT, MCV, dan MCH dibawah standar normal.
  5. Secara Klinik anjing mengalami lemah, letih, lesu
  6. Terdapat infeksi parasit demodek dan scabies


Terapi

Dari kondisi tersebut, terapi yng dapat dilakukan antara lain :
  1. Pemberian obat ektoparasit dan endoparasit seperti ivomec
  2. Pemberian obat anti alergi
  3. Pemberian obat antibotik
  4. Pemberian vitamin B - kompleks
  5. Pemberian zat besi dan mineral lainnya
  6. Bila perlu lakukan tranfusi darah


Demikianlah Berita dari kami Pemeriksaan Darah Automated Blood Counter (case report)

Sekianlah artikel Pemeriksaan Darah Automated Blood Counter (case report) hari ini, semoga dapat memberi pengetahuan untuk anda semua. ok, sampai jumpa di artikel berikutnya. Terima Kasih

Anda saat ini sekarang membaca berita Pemeriksaan Darah Automated Blood Counter (case report) dengan alamat link https://www.susububukdancow.xyz/2016/03/pemeriksaan-darah-automated-blood.html

Post a comment

0 Comments