Strongyloides (Nematoda)

Strongyloides (Nematoda) - Halo, kembali bersama kami SusuBubukDancow.xyz - Website Berisi Artikel Susu Terupdate, Pada kesempatan hari ini kami akan membahas seputar Strongyloides (Nematoda), kami telah mempersiapkan berita ini dengan benar guna anda baca dan serap informasi didalamnya. semoga seluruh isi postingan berita Parasitologi, yang kami posting ini bisa anda mengerti, selamat membaca.

Judul Berita : Strongyloides (Nematoda)
good link : Strongyloides (Nematoda)

Baca juga


Strongyloides (Nematoda)


Strongyloides berasal dari phyllum Nemathelminthes, sub class Secernentea, class  Nematoda, ordo Rhabditida, superfamily Subuluroidea, Family Strongyloididae  dan genus Strongyloides.

Cacing ini disebut cacing benang. Cacing dewasa dapat bersifat parasit maupun bebas. Bentuk parasitik  panjangnya 2 – 9 mm dan langsing, dan yang dapat ditemukan hanyalah cacing betina yang bersifat PARTHENOGENETIK (perkembangbiakan tidak melalui proses perkawinan). 

Telur dapat berkembang diluar tubuh hospes, kemudian langsung menjadi larva infektif yang bersifat parasitik atau dapat menjadi bentuk larva bebas jantan dan betina. Cacing ini memiliki esofagus panjang dan berbentuk selindris, vulva terletak pada bagian pertengahan tubuh posterior, ekor pendek dan telur telah berembrio.

Bentuk bebas adanya cacing jantan dan betina dengan esofagus rabditiform, ujung posterior cacing betina meruncing ke ujung vulva terletak di pertengahan tubuh.
Bentuk parasitic
esofagus filariform tanpa bulbus posterior, larva infektif dari generasi parasitik mampu menembus kulit dan mengikutialiran darah.

1.      SIKLUS HIDUP
Siklus hidup cacing ini memiliki generasi parasitik dan generasi bebas. Generasi  bebas yang mempunyai jantan dan betina sedangkan generasi parasitik hanya memiliki cacing betina yang menghasilkan telur berembrio.  Dan masing generasi memiliki 4 stadium larva yaitu L1, L2, L3 dan L4. Pada stadium L1 (rhabditiform) cacing menetas dari telur yang dikeluarkan melalui feses host yang terinfeksi.

Siklus hidup homogenik berlangsung dengan jalur melewati tubuh hospes, siklus ini dimulai dari Larva stadium I dapat berkembang langsung menjadi larva stadium 3 yang infektif, kemudian siklus hidup heterogenik yaitu siklus hidup diluar tubuh hospes  dimana terdapat cacing jantan dan betina kawain diluar tubuh hospes dan akan dapat memproduksi larva infektif

Bila kondisi lingkungan menunjang siklus heterogenik yang dominan dan bila tidak menunjang siklus homogenik yang dominan.

Pada siklus heterogenik larva stadium I ditransformasikan secara cepat sehingga dalam 48 jam terbentuk cacing jantan dan betina bebas yang dewasa kelamin. Melalui kopulasi, betina bebas memproduksi telur yang akan menetas dalam beberapa jam dan kemudian mengalami metamorfosa menjadi larva infektif. Hanya satu generasi larva yang diproduksi oleh betina bebas.

Pada siklus homogenik larva stadium I cepat mengalami perubahan menjadi larva III (infektif) yakni sekitar 24 jam pada suhu 27 0C. Larva infektif (filaform) yang berkembang dalam feses atau tanah lembab yang terkontaminasi feses, kemudian menembus kulit dan masuk ke dalam darah yang menuju ke jantung dan sampai di paruparu.  

Di paruparu larva menembus dinding kapiler masuk kedalam alveoli, bergerak naik menuju ke trachea kemudian mencapai epiglotis. Selanjutnya larva tertelan dan masuk kedalam saluran pencernaan yang mencapai bagian atas dari intestinum, disinilah cacing betina menjadi dewasa.

Cacing dewasa yaitu cacing betina yang berkembangbiak dengan cara partogenesis hidup menempel pada sel-sel epitelum mukosa intestinum terutama pada duodenum, di tempat ini cacing dewasa meletakkan telurnya. 

Telur kemudian menetas melepaskan larva non infektif  rhabditiform.  Larva rhabditiform ini bergerak masuk kedalam lumen usus, keluar dari hospes melalui tinja dan berkembang menjadi larva infektif filariform yang dapat menginfeksi hospes yang sama atau hewan lainya. Dapat pula larva rhabditiform ini berkembang menjadi cacing dewasa jantan dan betina setelah mencapai tanah.

Cacing dewasa betina bebas yang telah dibuahi dapat mengeluarkan telur yang segera mentas dan melepaskan larva non infektif rhabditiform yang kemudian dalam 24-36 jam berubah menjadi larva infektif filariform. 

Kadangkala pada hewan tertentu, larva rhabditiform dapat langsung berubah menjadi larva filariform sebelum meninggalkan tubuh hewan tersebut dan menembus dinding usus atau menembus kulit di daerah perianal yang menyebabkan auotinfeksi dan dapat berlangsung bertahun-tahun.





Gambar 1 : Siklus Hidup Strongyloides pada Anak Kuda

2.      SPESIES STRONGYLOIDES
a)   Strongyloides Papillosus
Strongyloides papilosus memiliki mulut yang besar dan terbuka ke sebuah capsula bukalis yang dapat mempunyai gigi, parasit ini bila makan akan mengambil segumpal lapisan mukosa usus dan memasukkannya ke kapsula bukalis. parasit ini merupakan parasit nematoda yang menimbulkan kerusakan pada epitel usus halus sehingga menggagu tingkat absorbsi pada usus. Penurunan penyerapan nutrisi pada usus halus dapat berakibat menimbulkan defesiensi nutrisi pada hewan yang terinfeksi.

Strongyloides papilosus menginfeksi melalui pakan maupun menembus barier kulit host. Sehingga pada bahagian kulit yang di tembus oleh larva cacing ini sering menimbulkan gejala peradangan kemerahan dan gatal

Cacing ini terdapat diseluruh dunia pada mukosa usus halus domba, kambing, sapi, kelinci dan ruminansia liar. Kondisi dan umur hewan diatas dari semua tingkat umur dapat terinfeksi oleh cacing ini, akan tetapi tingkat infeksinya pada hewan muda lebih tinggi jika dibandingkan dengan hewan tua.

Cacing betina menghasilkan telur yang berbentuk elips, berdinding tipis, berembrio dengan ukuran 40-64 x 20-42 mikron. Bentuk bebas betina memiliki ukuran tubuh  ± 1 x 0,05 mm, esofagus ± sepanjang tubuhnya serta pendek dan terbuka, uterus berupa satu barisan lurus yang berisi 40 - 50 telur. 

Vulva terbuka di sisi ventral dekat pertengahan tubuh. Cacing jantan hidup bebas dengan panjang 700 – 825 mikron. Dengan dilengkapi spikulum yang kuat, melengkung dengan panjang sekitar 33 mikron dan gubernakulum yang panjangnya 20 mikron dan lebar 2,5 mikron. Masa prepaten 7-9 hari.

Sedangkan bentuk parasitik struktur tubuh betina halus dan transparan, ukuran 2,2 x 0,05 mm, esofagus filiformnya sepanjang tubuh. Pada betina gravid uterus berisi 10 – 20 telur yang mengandung embrio. 

Vulva pada sisi ventral 1/3 posterior panjang tubuh nya. Karena belum ditemukannya bentuk parasitik jantan maka dianutlah pemahaman bahwa bentuk parasitik betina pada ruminansia berkembang biak secara parthenogenesis. Larva rhabditiform memiliki Ukuran tubuh ± 380 x 20 u, esofagus pendek dan terbuka, genital primordium besar dan ovoid terletak di ventral dekat intestinal. 

Ekor runcing. Sedangkan Larva filariform  memiliki ukuran tubuh  ± 630 x 16 u, mulut tertutup, esophagus sepanjang badan, ujung ekor bercabang dua pendek (fork tail)  atau tumpul.


Gambar 2. Telur Strongyloides papillosus

          Telur  elips, ukurannya menengah (40-60 x 20-25 mikron), memiliki ornamen  polar dan tidak adanya operculum berdinding  tipis dan mengandung larva.

b)      Strongyloides ransomi
Strongyloides ransomi terdapat di seluruh dunia pada mukosa usus halus babi, cacing betina partenogenetik parasitik panjangnya 3,3-4,5 mikron dan berdiameter 54-62 mikron, dan menghasilkan telur telah berembrio berbentuk elips,berkulit tipis, berukuran 45-55 x 26-35 mikron. 

Cacing jantan hidup bebas mempunyai panjang 868-899 mikron dengan spikulum melengkung yang panjangnya 26-29 mikron dan gubernakulum dengan panjang 18-19 mikron. Cacing betina hidup bebas panjangnya 1,0 – 1,1 mm. masa prepaten adalah 3-7 hari.


Gambar 3 Telur Strongyloides ransomi        





 Gambar 4 Cacing Strongyloides ransomi

c)      Strongyloides westeri
Strongyloides westeri terdapat di seluruh dunia pada mukosa usus halus kuda, keledai, babi dan zebra. Cacing ini biasanya tidak banyak terdapat. Cacing betina parasitic panjangnya 8-9 mm dan berdiameter 80-95 mikron ,mereka menghasilkan telur berembrio berbentuk elips, berkulit tipis, berukuran 40-52 x 32-40 mikron. Masa prepaten sekitar 2 minggu.


Gambar 5: Telur Strongyloides westeri

Gambar 6: Cacing Strongyloides westeri

d)      Strongyloides stercoralis
Strongyloides stercoralis sangat umum terdapat di seluruh dunia pada mukosa usus halus anjing , serigala, kucing, dan berbagai mamalia lainnya. Cacing betina parasitik panjangnya 1,7-2,7 mm dan berdiameter 30-40 mikron. 

Mereka menghasilkan telur berembrio 55-60 x 40-50 mikron yang cepat sekali menetas sehingga larva stadium pertama terdapat pada feses. Cacing jantan hidup bebas panjangnya 650-1000 mikron dan berdimeter 40-50 mikron dan sebuah gubernakulum. 

Cacing betina hidup bebas mempunyai panjang 0,9-1,7 mm dan berdiameter 51-84 mikron dan menghasilkan telur berembrio berkulit tipis, berukuran 58-60 x 40-42 mikron masa prepaten 8-17 hari atau lebih.




Gambar 7: Rhabditiform Strongyloides stercoralis

Gambar 8: Filariform ( Larva Stadium 3) Strongyloides stercoralis

e)      Strongyloides avium
Strongyloides avium terdapat di Amerika Utara dan india pada sekum dan usus halus ayam,kalkun dan burung lainnya. Cacing ini jarang terdapat di daerah dingin. Cacing betina parasitic panjangnya 2,2 mm dan berdiameter 40-45 mikron dan menghasilkan telur yang berukuran 52-56 x 36-40 mikron. 

Cacing jantan hidup bebas sekitar 780 mikron dan mempunyai spikulum dengan panjang sekitar 30 mikron. Cacing betina hidup bebas sekitar 860 mikron dan menghasilkan telur 48 x 22 mikron.


                                                  DAFTAR PUSTAKA



Joehan, Frinda. 2011. Ordo Rabditida. http://frindajoehans.blogspot.com/2011/03/parasitologi-nematoda.html. 24 September 2011.

Bratiig W, Norbert dkk. 2006. Strongyloides ratti Life Cycle for Comparing Free-living and Parasitic nematode stages: Excretory/Secretory Products of  Infective Larval Stage.
http://www.genetics.wustl.edu/mitrevalab/Research/NB-WBR_Sr_Poster.pdf12 September 2011.

Kun_zone. 2011.  Nematoda 1. http://kunto-anggoro.blogspot.com/2011/03/nematoda-1.html. 24 September  2011.

Levine D, Norman. 1994. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Michelle L, dkk. 2009. Morphogenesis of Strongyloides stercoralis Infective Larvae Requires the DAF-16 Ortholog FKTF-1

http://www.plospathogens.org/article/info:doi/10.1371/journal.ppat.1000370. 26 September 2011




Demikianlah Berita dari kami Strongyloides (Nematoda)

Sekianlah artikel Strongyloides (Nematoda) hari ini, semoga dapat memberi pengetahuan untuk anda semua. ok, sampai jumpa di artikel berikutnya. Terima Kasih

Anda saat ini sekarang membaca berita Strongyloides (Nematoda) dengan alamat link https://www.susububukdancow.xyz/2015/02/strongyloides-nematoda.html

Post a comment

0 Comments