Perbandingan Sapi Bali (Bos Sondaicus) Dengan Sapi Ongole (Bos Indicus)

Perbandingan Sapi Bali (Bos Sondaicus) Dengan Sapi Ongole (Bos Indicus) - Halo, kembali bersama kami SusuBubukDancow.xyz - Website Berisi Artikel Susu Terupdate, Pada kesempatan hari ini kami akan membahas seputar Perbandingan Sapi Bali (Bos Sondaicus) Dengan Sapi Ongole (Bos Indicus), kami telah mempersiapkan berita ini dengan benar guna anda baca dan serap informasi didalamnya. semoga seluruh isi postingan berita Hewan Besar, berita Manajemen Ternak, yang kami posting ini bisa anda mengerti, selamat membaca.

Judul Berita : Perbandingan Sapi Bali (Bos Sondaicus) Dengan Sapi Ongole (Bos Indicus)
good link : Perbandingan Sapi Bali (Bos Sondaicus) Dengan Sapi Ongole (Bos Indicus)

Baca juga


Perbandingan Sapi Bali (Bos Sondaicus) Dengan Sapi Ongole (Bos Indicus)



I. PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak Plioceen di India. Sapi Bali yang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong pada awalnya dikembangkan di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah seperti: Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi.

Sapi bali merupakan jenis sapi asli Indonesia yang memiliki keunggulan, Keberadaannya perlu di gali.Dewasa ini sapi bali yelah tersebar hampir kepelosok nusantara termasuk pulau Lombok,dan bahkan ke negara tetangga seperti Malaysia dan australia

Ternak ini di kenal sebagai sapi potong dan sapi kerja,sebagai sapi kerja,sapi bali telah menunjukkan peranan penting bagi peternak terutama di daerah transimigrasi atau daerah baru. Sebagai ternak potong pun sapi bali mendapat perhatian khusus sebagai sebagai sumber protei hewani. 




Dari semua keistimewaan tersebut masih banyak kendala yang menjadi ganjalan untuk lebih meningkatkan produktivitas sapi bali, terutama dalam permodalan (pembelian sapi bibit).

Kebutuhan akan konsumsi daging di Indonesia khususnya di pulau Bali sampai saat ini masih menunjukan suatu angka yang tinggi di bandingkan dengan produk daging yang berasal dari hewan ternak yang lainnya (Murtidjo; 1990). 

Hal ini disebabkan karena  semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan pemenuhan gizi bagi tubuhnya.

Meningkatnya angka kebutuhan akan daging sapi ini ironisnya tidak sejalan dengan produksi daging itu sendiri, artinya terjadi ketidak seimbangan antara produksi daging sapi tersebut dengan tingkat permintaan pasar dan akhirnya yang terjadi adalah dilakukannya pemasokan daging tersebut dari luar negeri (impor) yang tentunya dengan melakukan jalan impor ini akan berdampak besar terhadap harga daging dipasaran.

Ironisnya permasalahan pemenuhan dagingpun masih menjadi suatu wacana yang sering diperbincangkan, hal ini disebabkan karena Indonesia khususnya pulau Bali sebagai tempat plasma nutfah sapi bali masih mendatangkan produk daging tersebut dari luar, padahal kalau di ukur dan dibandingkan dengan produk daging hasil impor tadi produk daging yang berasal dari sapi bali masih lebih bagus. 

Dari sinilah muncul suatu pertanyaan besar kenapa sapi domestik yang didalamnya termasuk sapi bali dan sapi domestik yang lainnya tidak mampu memasok kebutuhan daging masyarakat?. Hal ini sangat terkait dengan pola masyarakat peternak dalam berternaknya sapi bali tersebut.


II. PEMBAHASAN

A. SENTRA PETERNAKAN
Sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura banyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi. Sapi jenis Aberdeen angus banyak terdapat di Skotlandia. Sapi Simental banyak terdapat di Swiss. Sapi Brahman berasal dari India dan banyak dikembangkan di Amerika. 

Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).

Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. 



Selain itu juga sapi Aceh yang banyak diekspor ke Malaysia (Pinang). Dari populasi sapi potong yang ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi PO, Madura dan Brahman.

Sapi Bali berat badan mencapai 300-400 kg. dan persentase karkasnya 56,9%. Sapi Aberdeen angus (Skotlandia) bulu berwarna hitam, tidak bertanduk, bentuk tubuh rata seperti papan dan dagingnya padat, berat badan umur 1,5 tahun dapat mencapai 650 kg, sehingga lebih cocok untuk dipelihara sebagai sapi potong. 

Sapi Simental (Swiss) bertanduk kecil, bulu berwarna coklat muda atau kekuning-kuningan. Pada bagian muka, lutut kebawah dan jenis gelambir, ujung ekor berwarna putih.

Sapi Brahman (dari India), banyak dikembangkan di Amerika. Persentase karkasnya 45%. Keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap pakan yang diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya, termasuk pakan yang jelek sekalipun. Sapi potong ini juga lebih kebal terhadap gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas.

Sapi bali mempunyai bentuk tubuh yang menyerupai nenek moyangnya, yaitu banteng.Namun ukuran sapi bali lebih kecil akibat proses penjinakakan. 

Perbandingan antara sapi bali dan banteng yang menyangkut ukuran tubuh.Keunggulan dan keunikan sapi bali menjadi ciri khusus yang membedakannya dengan bangsa sapi lainnya. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari ciri-ciri fisik yang khas sebagai salah satu ternak andalan indonesia.

B. SAPI BALI
1.1  Ciri-ciri fisik
Ukuran badan sapi bali termasuk kategori sedang dengan bentuk badan memanjang, dada dalam badan padat, bertanduk, kepala agak pendek, dan dahi yang datar.Bulu sapi bali umumnya pendek, halus, dan licin. 

Kulit berpigmen dan halus.Kepala lebar dan pendek dengan dahi datar, telinga berukuran sedang dan berdiri.Tanduk sapi bali jantan berukuran besar, runcing, dan tumbuh agak kebagiaan luar kepala. 

Bila dilihat dari muka menyerupai huruf “U” yang melebar pada kedua ujungnya.Panjang setiap tanduk sapi jantan dapat mencapai 25-30 cm dengan jarak kedua ujung tanduk antara 45-65 cm. 

Pada umumnya kulit antara kedua tanduk jantan hanya berbulu sedikit, bahkan banyak yang tidak berbulu. Dibagian kulit tersebut tampak terjadi pembentukan bahan tanduk yang kelak pada umur tua membentuk “jembatan tanduk” yang tebal dan berwarna abu-abu. 

Sapi bali betina juga memiliki tanduk, tetapi ukurannya lebih kecil,tanduknya tumbuh agak mengarahketengah kepala dan dari kepala mengarah lateral dorsal-medial. Namun kadang-kadang terjadi kelainan pertumbuhan tanduk misalya,tanduk tumbuh mengarah kearah bawah belakang sehingga mengapit bagian telinga kiri dan kanan kelihatan pucat. 

Biasanya ciri-ciri tersebut menunjukkan hewan yang kurang subur. Baik sapi bali jantan maupun betina tidak memiliki punuk.Leher sapi bali betina nampak panjang dan kecil. 

Gelambir sapi bali jantan terdiri dari dua bagian, yaitu sebuah lipatan kecil diantara rahang dan sebuah lipatan kulit yang dimulai dari bagian bawah leher dan menjulur kedaerah dada. Sementara sapi betina menunjukkan sebuah gelambir kecil yang hanya ada dileher.

Kaki sapi bali mengecil kedaerah pergelangan sehingga terikat agak lemah,kukunya kecil, dan ekornya pendek dengan ujung bulu ekor serendah sendi tarsal. Pertumbuhan ambing sapi betina sangat jelek dan ditutupi oleh bulu yang halus. Hal ini membuat pertumbuhan anak sapi bali cenderung lambat.

Ciri khas yang membedakan sapi bali dengan sapi lainnya adalah adanya bulu berwarna putuh yang terdapat pada bagian bawah keempat kakinya dengan batas yanga jelas,dibagian pantat bawah ekor berbentuk oval atau lingkaran dan sering disebut dengan mirror atau cermin. 

Ciri khas lainnya adalah di punggung sapi bali selalu terdapat suatu garis hitam yang jelas, dari bahu dan berakgir di ekor.yang sering di sebut dengan garis belut. Sapi bali memiliki pola warna yang unik dan menarik. Sapi bali betina memiliki warna bulu merah bata kecoklatan. 

Warna ini akan tetap menurun pada anak sapi bali betina maupun jantan. Namun,anak sapi jantan mengalami perubahan warna menjadi coklat kehitaman seiring pertambahan umurnya. 

Perjalan tersebut berjalan sejak umur 1,5 tahun dan berlangsung sampai umur sekitar 3 tahun. Pada akhirnya warna bulu sapi bali jantan berubah menjadi hitam mulus.Warna hitam pada sapi bali jantan akan mengalami perubahan menjadi merah bata bila sapi tersebut dijastrasi atau dikebiri. 

Perubahan warna tersebut dimulai dari bagian tubuh belakang kedepan dan berlangsung menyeluruh setelah sekitar 4 bulan,perubahan warna tersebut disebabkan oleh adanya pengaruh hormon testeron. 

Penyimpangan Pola warna bulu pada sapi bali tersebut dapat dikenal beberapa jenis sapi bali seperti :Sapi injin,Sapi poleng,Sapi bang,Sapi panjut, Sapi cundang,dan Sapi putih.

Penampakan warna sapi bali ternyata dapat pula dipengaruhi oleh daerah tempat hidup sapi tersebut,ada juga sapi bali yang tidak memiliki pigmen warna hitam sehingga kuku dan tanduknya berwarna kekuningan. 

Moncongnya seperti daging,pita hitam ditepi  telinga berwarna agak kabur. Bulu mata tidak hitam seperti sapi bali lainnya dan lingkaran mata berwarna kuning muda. Garis belut berwarna keputih-putihan,dan rambut ekor juga putih dan warna kulit

1.2  Penampilan sapi bali
Penampilan sapi bali banyak menarik perhatian berbagai pihak,ternak ini sangat responsif terhadap perbaikan mutu dan kualiyas, terutama pada pertambahan berat badan. 

Penambahan ransum, baik hijauaan maupun konsentrat pada pakan ternak, akan meningkatkan berat badanya,meskipun demikian perlu diingat bahwa penampilan ternak juga dipengaruhi tata laksana pemeliharaannya.




Ukuran tubuh sapi bali termasuk dalam kategori sedang.Ukuran tubuh sapi bali jantan rata-rata lebih besar dari pada sapi betina. Penampakan ukuran tubuh ini dapat bervariasi tergantung wilayah tempat hidupnya. 

Rata-rata ukuran tubuh sapi bali menurut jenis kelaminnya.Rata-rata ukuran tubuh sapi bali di derah bali lebih baik dari daerah lainnya. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor genetik atau lingkungan yang memang cocok untuk pertumbuhannya. 

Bila di ingat Bali adalah derah tempat awalnya sapi ini berkembang maka hal tersebut tidaklah aneh. Ukuran sapi bali di daerah pengembangan lain yang masih rendah mungkin diakibatkan oleh kondisi lingkungan setempat dan terjadinya penurunan genetik karena karna persilangan dengan jenis sapi lainnya.

1.3 Pertambahan berat badan 
Berat badan sapi bali sangat respondensifterhadap usaha-usaha perbaikan. Beberapa faktor yang dapat mempengaaruhi pertambahan berat badan adalah jenis kelamin,perlakuaan,lingkungan dan faktor keturunan. 

Pada umur 1,5 tahun berat sapi bali mencapai 217,9 kg. Apabila disertai dengan pemberian konsentrat tinggi maka kenaikan berat badannya dapat mencapai 0,87 kg per hari. Dari segi ekonomi, penampilan berat badan selalu menjadi pertimbangan dalam menentukan harga jual. 

Sapi bali memiliki kemampuan untuk mempertahan kan kondisi dan berat badannya meskipun dipelihara di padang gembalaan yang kualitasnya rendah.Disamping itu, kemampuannya mencerna serat dan memanfaatkan protein pakan lebih baik daripada sapi lainnya.

1.4  Reproduksi
Dari segi reproduksi,sapi bali termasuk sapi yang subur. Persentase beranakknya berkisar antara 40-80 %,tingkat reproduksi yang tinggi ini juga terlihat dari selang beranak yang pendek yakni mendekati 1 tahun.

1.5 Kualitas daging dan karkas
Sapi bali merupakan ternak potong andalan Indonesia hewan ini memiliki persentase karkas yang tinggi, lemaknya sedikit,serta perbandingan tulang dan dagingnya sangat rendah. 

Selama ini sapi bali di jual untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal seperti rumah tangga, hotel,restoran, industri pengolahan daging, serta pasar antar pulau terutama untuk pasar kota-kota besar seperti Jakarta, Bali dan Surabaya.Sayangnya kualitas daging sapi bali masih rendah untuk memenuhi syarat kualitas daging secara umum, terutama pada nilai kepualaman, warna daging, pH , Dan total mikroba bakteri coliforem yang melewati batas maksimum. 

Kualitas daging sangat sangat dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi genetik, umur, jenis kelamin, lokasi anatomi daging, dan kesehatan ternak . 

Adapun faktor eksternal meliputi pakan ternak, perlakuan sesaat sebelum disembelih, kebersihan tempat dan alat-alat penyembelihan, kebersihan alat ankut, kios daging, perlakuan di daging, perlakuan di dapur,sampai penyajian di meja makan.

Dari segi produksi karkas, sapi bali memiliki persentase karkas yang tinggi dari pada sapi unggul lainnya. Persentase karkas sapi baliu berkisar 56-57%

C. Keunggulan Sapi Bali
Keunggulan sapi bali tampak pada hidupnya yang sederhana, mudah dikendalikan  dan jinak. Sapi bali dapat hidup dengan memanfaatkan hijauan yang kurang bergizi, tidak selektif terhadap makanan, dan memiliki daya cerna terhadap makanan serat yang cukup baik.

Kelebihan yang paling mencolok adalah kemampuan beradaptasi dengan baik pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, terutama pada daerah baru yang belum ada ternak sapi atau belum mengenal budidaya pemeliharaan sapi. Oleh karena sifat inilah sapi bali sering disebut sebagai sapi perintis atau sapi pelopor.




Sapi bali termasuk ternak dwiguna, yaitu dapat dimanfaatkan sebagai ternak kerja dan ternak potong. Sebagai ternak kerja, sapi bali tergolong kuat dan cepat dalam mengerjakan lahan pertanian karena memiliki kaki yang bagus dan kuat dibandingkan dengan sapi peranakan ongol. 

Sapi bali yang dapat di andalkan untuk pembangunan subsektor pertanian ini memiliki beberapa kelemahan yang menjadi faktor pembatas dalam program pengembangan sapi bali. 

Kelemahan tersebut antara lain ukuran tubuhnya relatif kecil,produksi susu rendah sekitar 1-1,5 1/hari sehingga pertumbuhan anak sapi lambat, dan masih tingginya angka kematian anak pada pemeliharaan secara ekstensif,selain itu sapi bali mudah terserang penyakit khusus seperti penyakit jembrana dan ingusan. 

Pertumbuhan sapi bali cenderung lambat, tetapi tetapi sangat responsif terhadap usaha-usaha perbaikan. Ternak ini akan mengalami penurunan berat badan pada waktu musimkerja. Namun setelah diberi makan kembali maka berat badannya kembali normal.

D. Kehidupan Peternak Sapi Bali di Bali
Sapi bali sebagai salah satu hewan ternak yang sudah menjadi bagain dari kehidupan masyrakat petani di bali selain babi, ayam dan itik. Sapi bali yang telah menjadi bagain dari masyarakat dalam pemeliharaannya masih belum terintensifkan sama sekali. 

Hal ini disebabkan karena masyarakat peternak sapi bali masih beranggapan bahwa dia beternak hanya sebagai pekerjaan sampingan saja, hal ini buka tanpa suatu alasan tidak sedikit para peternak sapi bali yang dalam proses pemeliharaannya masih belum intensif. 



Sebagai contoh adalah pemeliharaan yang dilakukan dengan penggembalaan meskipun daerah tempat penggembalaan tersebut sama sekali tidak mendukung untuk keberlangsungan sapi bali itu sendiri seperti penggembalaan di daerah yang tandus dan tidak ada rumput hijauan. 

Selain itu para peternak cenderung membiarkan sapi-sapi untuk tetap berada di  luar (ditempat penggembalaan tadi) dan tidak dimasukan kekandang meskipun cuaca atau hari sudah berganti malam.

Meskipun pola pemeliharaan sapi bali masih belum intensif secara penuh, akan tetapi dalam kehidupan masyarakat petani di Bali, sapi bali memiliki beberapa manfaat penting seperti sebagai tenaga kerja, sumber pendapatan, sarana upacara agama dan sebagai sarana hiburan dan obyek wisata.

E. Sapi Peranakan Ongole (PO)
Sapi peranakan ongole merupakan sapi hasil persilangan antara sapi ongole yang berhasil dijinakan di Madras- India dengan sapi betina Jawa (Majun; 2002). 



Populasi dari sapi peranakan ongole ini dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sehingga populasinya mengalahkan populasi sapi Jawa sebagai sapi asli Jawa dan sampai sekarangpun sapi yang berada ditengah masyarakat kehidupan Jawa merupakan sapi peranakan bukan lagi sapi Jawa.

Adapun berbagai karakteristik sapi  peranakan ongole adalah sebagai berikut::

  1. punuk yang besar dengan banyak lipatan dibawah leher dan perut (b) telinganya panjang serta menggantung.
  2. Temperamennya tenang dengan matanya yang besar.
  3. Tanduk sapi peranakan ongole yang betina lebih panjang daripada tanduk sapi yang jantan.

F. Kehidupan Peternak Sapi Peranakan Ongole (PO) di Malang

Psikologi kehidupan masyarakat peternak sapi peranakan ongole yang berada di daerah Malang dan sekitarnya masih dilakukan secara tradisional, artinya penanganan pemeliharaan sapi tersebut masih dilakukan sebagai pekerjaan sampingan. 

Hal ini terkait juga dengan lebih berpotensinnya beternak sapi perah di daerah ini, oleh karena prosentase masyarakat yang memelihara sapi peranakan ongolepun kurang begitu banyak.

Sedikit berbeda dengan poa beternak dengan yang dilakukan oleh peternak sapi bali, yakni meskipun para peternak sapi ongole ini hanya sebatas pekerjaaan sambilan saja dalam memlihara sapi akan tetapi, sapi – sapi tersebut dalam pemeliharaannya tidak di lepaskan di padang rumput ataupun sawah, akan tetapi pemeliharaannya dilakukan dengan sistem pengandangan. 

Hal ini sangat terkait seklai dengan kondisi lingkungan penduduk yang ada di daerah ini dan kondisi keamanan yang kurang menunjang untuk dilakukanya penggembalaan sapi.

Meskipun pemeliharaannya dilakukan dengan sistem pengandangan dalam artian disini perawatannyapun lebih intensif karena setiap aktivitas dari sapi tersebut dapat terkontrol oleh pemiliknya baik dari segi pemeberian makanan ataupun manajemen kesehatannya, akan tetapi masyarakat di daerah ini masih melakukan pemeliharaan sapi ini sebagai pekerjaan sampingan setelah pekerjaan utamanya sebagai petani ataupun buruh tani disawah.

Peningkatan Pendapatan dan Kesejahteraan Petani-peternak Sapi Bali
Daging sapi merupakan pilihan utama para konsumen daging dibandingkan dengan daging-daging yang lainnya, sehingga sudah dalam pemasarannyapun tidak akan mengalami kesulitan. 

Berbagai alasan mendasar merupakan argumen utama yang menyatakan bahwa menjalakan usaha beternak sapi potong dalam batas kelayakan masih sanggup untuk memberikan keuntungan ekonomis. 

Hal ini disebabkan karena sapi memiliki prosentase karkas lebih baik daripada kerbau dan prosentase karkasnya cukup tinggi (Murtidjo ; 1990).



III. KESIMPULAN DAN SARAN


Pada dasarnya pemeliharaan ternak sapi antara sapi bali dengan sapi peranakan ongole yang berada di Malang Jawa Timur memiliki kesamaan, yakni kurang ditanganinya secara intensif dalam pemeliharaannya. 

Akan tetapi jika di telusuri  lebih mendalam lagi ternyata sapi balai masih lebih bagus atau lebih berpotensi untuk dijadikan sebagai ternak sapi potong, hal ini sangat terkait erat dengan berbagai macam keunggulannya dalam mengahsilkan karkas yang tinggi dan ketahanan hidupnya yang mampu bertahan ditempat yang kondisi lingkungannya buruk sekalipun.

Selepas ingar-bingar pemilihan umum bagi para calon legislatif, seabrek tugas pembenahan bangsa menanti di hadapan mata para anggota dewan. 

Khususnya di subsektor peternakan, di mana sumbangan protein hewani (daging, telur, dan susu) bagi kecerdasan anak bangsa merupakan program yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sebab, salah satu tolak ukur keberhasilan pembangunan adalah tingkat konsumsi protein hewani bangsa itu.

Kini posisi Indonesia di Asia, lebih baik dari Bangladesh pada posisi nomor dua dari bawah dengan tingkat konsumsi protein hewani yang berasal dari ternak sekira 4,7 gram/kapita/hari, masih di bawah norma gizi yang disarankan FAO 6 gram/kapita/hari. 

Artinya, ada korelasi positif antara tingkat konsumsi protein hewani dengan kesejahteraan bangsa di suatu negara. Jumlah penduduk di negeri ini sekira 220 juta orang. 

Menurut Dirjen Binprod Peternakan ternyata setiap orang baru mampu mengonsumsi daging sapi sekira 1,7 kg/orang/tahun, maka setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan daging sapi tersebut telah dipotong sekira 1,5 juta ekor sapi lokal untuk menghasilkan sekira 350.000 ton daging sapi yang diproduksi di dalam negeri ditambah dengan mendatangkan sapi bakalan dari Australia tidak kurang dari 350.000 ekor dan impor daging sapi sekira 30.000 ton.

Jika saja terjadi peningkatan populasi penduduk 2% per tahun dan populasi sapi di dalam negeri sekira 14% per tahun dengan kemampuan konsumsi daging (sapi) masyarakat hanya naik 1 gram/kapita/hari, di mana kondisi ini pun masih di bawah norma gizi. 

Maka dibutuhkan daging sekira 1.265,8 ton/hari identik dengan 10.548 ekor sapi yang harus dipotong per hari atau 3,85 juta ekor per tahun. Jika saja 50% penduduk Indonesia tidak mampu membeli daging sapi artinya sekira 100 juta orang masih memerlukan dan mampu membeli daging. 

Data ini menunjukkan kepada kita betapa negeri tercinta ini merupakan pasar yang sangat potensial, perlu dibina dan dikembangkan untuk meningkatkan produksi ternak di dalam negeri, terutama ternak sapi bali.


DAFTAR PUSTAKA

Toelihere Mozes R, drh, M.sc,DR. 1979. Fisiologi Reproduksi Pada ternak. Penerbit Angkasa, Bandung.

Majun IGK, drh. Diktat Kuliah Ilmu Peternakan. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Bali.

Batan I Wy, drh. Buku Ajar Sapi Bali. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Bali

Gunawan, Ir, M. sc. Pamungkas D, Ir. Affandy L, Drs. 1998. Sapi Bali Potensi,    Prduktivitas dan Nilai Ekonomis. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Bandini, Yusni. 1999. Sapi Bali Cocok Untuk Ternak Potong dan Ternak Kerja Rajin Beranak Mudah Pemeliharaanya.Penebar Swadaya, Jakarta.


Demikianlah Berita dari kami Perbandingan Sapi Bali (Bos Sondaicus) Dengan Sapi Ongole (Bos Indicus)

Sekianlah artikel Perbandingan Sapi Bali (Bos Sondaicus) Dengan Sapi Ongole (Bos Indicus) hari ini, semoga dapat memberi pengetahuan untuk anda semua. ok, sampai jumpa di artikel berikutnya. Terima Kasih

Anda saat ini sekarang membaca berita Perbandingan Sapi Bali (Bos Sondaicus) Dengan Sapi Ongole (Bos Indicus) dengan alamat link https://www.susububukdancow.xyz/2015/02/perbandingan-sapi-bali-bos-sondaicus.html

Post a comment

0 Comments